Bertemu Orang Terkenal yang Tak Dikenal

Kerap jurnalis bertemu orang ‘besar’ tanpa janjian. Perjumpaan tak sengaja itu harusnya dimaksimalkan sebagai keunggulan berita. Tapi, bagaimana kalau reporter dan kru tak mengenali sang tokoh? Di sinilah wawasan, kepekaan, dan kecepatan intuisi harus berbicara.

Kurnia Boru Sion Sinurat, Steven Hartoyo, Olive dan Dea Andriani bahu-membahu dalam satu kelompok, mewujudkan karya yang menjadi syarat Ujian Tengah Semester Universitas Multimedia Nusantara. Mereka mengambil topik liputan perhetalan prakualiafikasi Piala AFC U-23 yang diikuti Korea Selatan, Brunei, Timor Leste, dan tuan rumah Indonesia.

Paket berita ini cukup komplet. Diawali bumper acara olahraga yang mengesankan, host nan atraktif, lalu masuk ‘toss’ ke reporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Pemilihan Kompas Corner sebagai ‘studio’ pun menunjukkan persiapan dan konsep matang, sehingga lokasi di mana anchor berdiri tidak di tempat yang asal-asalan. CG (character generator) tampil konsisten, menegaskan materi apa yang sedang disampaikan dalam narasi VO sekaligus insert visualnya. Penampilan Olive yang tertata menyampaikan laporannya juga menjadi nilai plus tersendiri.

Satu masukan kecil soal diksi alias pilihan kata. Dalam istilah olahraga sebaiknya tidak menyebutkan ‘kosong’, tapi ‘nol’. Alih-alih menyatakan Korsel menang lima kosong, sebaiknya diganti ‘Korea memetik kemenangan lima nol’. Kosong (zero, berarti empty) tidak dipakai dalam skor sepakbola bahasa Inggris. Televisi luar negeri lebih sering memakai ‘nil’ untuk penyebutan skor ‘nol’.

Di bagian ini, Olivia mewawancarai narasumber yang datang sekeluarga. “Telah berdiri di sebelah saya salah seorang pendukung dari timnas Indonesia….” Bagaimana mungkin ada empat wajah di sampingnya, disebut sebagai salah seorang pendukung. Usai menanyakan namanya, -mungkin Olivia dan tim tidak melakukan pre interview dulu?-  mereka tak sadar kalau narasumbernya sebenarnya ‘tokoh’ alias public figure juga. Andi Arief, aktivis mahasiswa 1990-an, yang terakhir menjabat staf khusus presiden bidang sosial dan bencana dalam masa kepemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Bersua legenda sepakbola

Awalnya kelompok ini ingin fokus membahas kondisi rumput GBK usai dipakai konser One Direction dua hari sebelumnya. Namun, pihak humas pengelola GBK tak dapat mereka temui sampai batas waktu tugas dikerjakan. “Kami mengurungkan niat untuk mewawancarai pihak pengelola,” papar Steven.

Mereka pun memutuskan datang  langsung ke kantor PSSI. Dengan harapan bertemu dengan ‘seseorang’ yang relevan untuk ditanyai pendapat terkait rumput di lapangan. Tak lupa mereka membeli selembar tiket untuk kategori 1 senilai Rp 100 ribu.

Kurnia berkisah, sembari menunggu pertandingan Indonesia melawan Timor Leste, mereka disapa seorang bapak yang duduk di sebelahnya dan bertanya apa tujuan mereka datang ke Senayan. “Kami pun menjelaskan bahwa kami mahasiswa yang sedang meliput untuk tugas UTS dan saat itu sedang kebingungan karena tidak mendapat narasumber yang sesuai dengan topik yang ingin kami angkat,” kata Dea. Bapak itu kebetulan juga ingin bertemu sekretaris PSSI namun sedang tidak ada di tempat. Kemudian, bapak tersebut bertanya kepada salah seorang staf, apakah ada yang bisa diwawancarai oleh kelompok ini  atau tidak. Sejurus kemudian, ia pun menyampaikan bahwa humas PSSI tidak berada di tempat, sehingga mereka tak bisa mewawancarainya.

Pria itu bercerita tentang kegiatannya menjadi pelatih, serta menunjukkan sekumpulan berita yang memuatnya. Setelah mendengarkan pembicaraan si bapak panjang lebar dan mengamati kliping koran yang dibawanya, anggota kelompok itu tersadar, pria itu tak lain Ronny Paslah, penjaga gawang timnas Indonesia era 1970-an ketika sepakbola Indonesia sedang jaya-jayanya. Sayang, kelompok ini gagal me-lobby Ronny untuk mengambil gambarnya. Mereka hanya melakukan wawancara audio, yang juga tak bisa dipakai karena besarnya noise dalam rekaman.

Sebuah pelajaran untuk menangkap momen, dan bagaimana melakukan pendekatan khusus pada narasumber prominance.

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s