Belajar Menjadi Wartawan yang ‘Tahan Banting’

Meliput event besar, bertemu crowd, dan merasakan langsung tugas reportase sebagaimana jurnalis media mainstream, membuat mahasiswa tahu bagaimana rasanya ditempa menjadi wartawan tangguh.

Beberapa masukan patut dilayangkan untuk karya kolaborasi Christina Maydita, Livani Putri dan Maya Vivian sebagai tugas Ujian Tengah Semester mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara ini. Setelah ‘bumper’, mereka membuka package dengan lead yang dibacakan Putri dari ‘studio’. Perpustakaan yang disulap bak studio di newsroom menjadikan latar Putri dinamis. Sayang, lead yang dibacakannya –gaya bicaranya keren ala presenter menyajikan berita dengan teleprompter- terlalu pendek. Mestinya, butuh setidaknya dua kalimat lagi, sebelum Putri melakukan ‘toss’ lke Christina di lokasi liputan.

Beralih ke ‘TKP’. Bahasa televisi adalah bahasa visual. Dengan latar gate B Gelora Bung Karno amat mencolok, Putri seharusnya tak perlu menyebut di mana lokasi dia berdiri, karena toh CG yang mereka pasang juga menulis demikian. Alih-alih menyebut lokasi, Putri baiknya langsung menekankan bagaimana situasi saat itu dan apa sisi menarik yang ditonjolkan pada live reportnya.

Dengan belanjaan visual yang lebih banyak, masuk beberapa detik setelah Putri mulai bicara, insert suasana antrean boleh mulai dimasukkan, sebelum kamera kembali ke Putri jelang sesi wawancara dengan calon penonton. Pada poin ini, penampilan ceria dan kepercayaan diri Livani Putri menjadi nilai plus sendiri.

Menampilkan klip One Directioners dari youtube tentu saja tidak salah, tapi tentu saja di sini orisinalitas karya menjadi berkurang –apalagi kalau alasannya karena minimnya stok visual.

Pada wawancara dengan Directioners, perhatikan bagaimana berbahasa Indonesia dengan benar. Karena Directioners sudah berarti jamak, digambarkan dengan narasumber lebih dari satu, maka tak perlu lagi menyebut kata ‘para’. Pada kesempatan wawancara di mana suara reporter juga ditonjolkan (tak sekadar SOT atau soundbyte narasumber) jangan segan mengarahkan mike ke bibir reporter sendiri.

Cerita proses liputan

Dalam proses liputan, kelompok ini juga berkisah tentang turunnya hujan yang membuat perencanaan menjadi sedikit ‘kacau’. “Kondisi becek dan hujan membuat kami berusaha untuk mencari tempat teduh sembari mencari angle pengambilan gambar untuk reportase (dan sekaligus take), juga mengambil shoot suasana antusiasme penonton dan pedagang atribut One Direction,” papar Christina.

Meski demikian, mereka merasa pengalaman liputan ini sangat menyenangkan. Selain mendapatkan pengalaman baru dalam liputan konser besar, mereka juga dapat merasakan euforia dan antusiasme dari para penonton konser One Direction.

“Kami juga belajar bagaimana menjadi jurnalis yang ‘tahan banting’, dengan banyaknya hambatan yang kami hadapi, seperti kehujanan, terlambat makan, dan sangat lelah karena harus berjalan kaki dari gerbang utama ke Gate B yang jaraknya sangat lumayan jauh,” kata Livani.

Dalam liputan ini mereka menggunakan kamera DSLR, microphone, dan tripod. “Take PTC harus dilakukan berulang kali karena beberapa kali reporter salah ucap,” kata Maya.

This entry was posted in campus and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s