Catatan dari Kongres IV PDI Perjuangan (2)

Pasang Surut Nasib Petugas Partai

Pidato politik Megawati Soekarnoputri seperti ‘menjewer’ kadernya yang kini ‘ditempatkan’ di kursi presiden.

Pemukulan gong pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan. Tanpa Jokowi di panggung. (Foto: Suara.com)

Pemukulan gong pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan. Tanpa Jokowi di panggung. (Foto: Suara.com)

Joko Widodo memang hadir dalam pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan di Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Rabu (9/4). Namun, tak banyak lampu sorot diarahkan kepadanya. Hadir di lokasi kongres lima menit setelah kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Joko Widodo mengenakan baju putih berbalut jas merah tanpa lambang partai. Yang menarik, meski duduk di deretan depan di samping Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Jokowi tak diajak naik panggung saat pemukulan gong pertanda pembukaan kongres. Saat itu, Mega berada di atas podium bersama Ketua Panitia Kongres I Wayan Koster, Plt. Sekjen Hasto Kristiyanto, dan Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Politik dan Hubungan Antarlembaga yang juga Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Sebelumnya, saat berpidato sebagai ketua panitia kongres, Wayan Koster hanya menyapa nama, “Insinyur Joko Widodo, kader PDI Perjuangan”, tanpa menyebut jabatan presiden. Berbeda dengan Megawati, yang masih mencantumkan jabatan lengkap, “Yang saya hormati, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla…”

Jokowi mencium tangan Megawati di acara partai.  Komunikasi terhambat.

Jokowi mencium tangan Megawati di acara partai. Komunikasi terhambat.

Pada acara-acara penting partai sebelum menjabat presiden, Jokowi mendapat porsi penting. Misalnya, saat apel siaga peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 2013 di Tugu Proklamasi, Jokowi berdiri di belakang Mega dengan menggunakan seragam satuan tugas PDI Perjuangan. Berlanjut pada Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan 6 September 2013 di Econvention, Ancol, Jokowi -saat itu belum diputuskan sebagai capres- membacakan ‘Dedication of Life’. yang naskah aslinya ditulis Soekarno pada 10  September 1966:

“Saya adalah manusia biasa
Saya dus tidak sempurna 

Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan dan kesalahan

Hanya kebahagiaanku adalah mengabdi kepada Tuhan, Kepada Tanah Air, Kepada bangsa
Itulah dedicaiton of life-ku…”

Sementara pada peringatan HUT ke-41 PDI Perjuangan 10 Januari 2014, Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta mendapat kesempatan memotong tumpeng bersama Megawati dan Wakil Gubernur Banten Rano Karno. Saat itu, potongan tumpeng pertama diserahkan kepada Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo.

Hubungan Jokowi dengan Megawati kerap mengalami pasang-surut. Bisa jadi, kekecewaan Mega belum tuntas karena gagalnya Komjen Budi Gunawan menjadi Kapolri, serta keputusan Jokowi menempatkan beberapa orang di pemerintahan yang dinilai ‘tak sejalan’ dengan sang ketua umum partai.

Aktivitas kebersamaan keduanya pun jauh berkurang, jika dibandingkan kebiasaan mereka bertemu dalam ‘morning tea’ di Teuku Umar setidaknya sebulan sekali. Selain itu, berbeda dengan pimpinan partai koalisi lain seperti Surya Paloh, Mega amat jarang berkunjung ke Istana Kepresidenan setelah Jokowi menjadi presiden. Selepas menghadiri pelantikan Kabinet Kerja pada 27 Oktober 2014, Mega tercatat hanya satu kali lagi datang ke Istana pada 3 Februari 2015 bersama para pimpinan partai politik pendukung pemerintah.

Tapi, satu pesan khusus Megawati kepada Jokowi tak akan pernah terhapus. “Pak Jokowi sampeyan tak jadikan capres, tapi Anda adalah petugas partai yang harus menjalankan tugas partai,” kata Megawati di kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI P, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, 14 Februari 2014. Tak beda dengan ibunya, Puan Maharani pun menegaskan sebutan Jokowi sebagai ‘petugas partai’. “Yang jelas sekarang PDI Perjuangan bersama Jokowi dan Jokowi masih petugas partai. Masih kader PDI Perjuangan,” kata Puan, dua bulan silam, mengomentari wacana kemungkinan ‘lepas’-nya Jokowi dari PDI Perjuangan dan membentuk partai sendiri.

Pidato menyentil dan gaya komunikasi Jokowi

Jokowi saat mendampingi Mega di Apel Hari Pancasila. Petugas partai. (Foto: Merdeka.com)

Jokowi saat mendampingi Mega di Apel Hari Pancasila. Petugas partai. (Foto: Merdeka.com)

Dalam pidato 19 halaman yang dibaca melalui teleprompter selama 37 menit pada pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan, Kamis (9/4) kemarin, Mega beberapa kali menyentil pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bisa ditafsirkan sebagai kekecewaan atas susunan ‘All The President’s Men’ di sekeliling Jokowi, presiden ke-5 Indonesia itu berucap, “Mobilisasi kekuatan tim kampanye sangatlah rentan ditumpangi kepentingan. Kepentingan yang menjadi “penumpang gelap” untuk menguasai sumber daya alam bangsa. Kepentingan yang semula hadir dalam wajah kerakyatan, mendadak berubah menjadi hasrat kekuasaan. Inilah sisi gelap kekuasaan saudara-saudara…”

Kemudian, dengan mengutip Undang-Undang No 42 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang mengamanatkan bahwa presiden dan wakil presiden dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik, Mega menegaskan, “Hukum demokrasi mengatur bahwa presiden dan wakil presiden memang sudah sewajarnya menjalankan garis kebijakan politik partai…” Mega pun tak segan mengingatkan Jokowi agar tak mengecewakan 70.997.833 rakyat Indonesia atau 53,15 pemilih yang menyampaikan suaranya pada Jokowi-JK pada Pilpres 9 Juli 2014 lalu. “Berpijaklah pada konsitusi karena itulah jalan kenegaraan. Penuhilah janji kampanye-mu, sebab itulah ikatan suci dengan rakyat,” pesan Mega.

Selama ini, ada beberapa orang dekat di lingkar Megawati yang bertugas menyiapkan konsep pidato Ketua Umum PDI Perjuangan, di antaranya Cornelius Lay, Prananda Prabowo, dan Ari Dwipayana. Nama terakhir kini ‘berpindah tugas’ dari pengajar Fisipol Universitas Gadjah Mada menjadi staf khusus Menteri Sekretaris Negara bidang politik dan pemerintahan. Adapun Conny –panggilan Cornelius Lay, kali ini tak terlibat dalam penyusunan pidato Mega, karena alasan kesehatan.

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Muradi tak menampik kalau beberapa poin pidato Mega pada pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan khusus diarahkan kepada Jokowi. Ia menilai, gaya komunikasi Presiden Joko Widodo kini dinilai agak berbeda disbanding saat masih menjabat sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. “Jokowi mulai meninggalkan gaya komunikasi informal. Ini sebabnya komunikasinya menjadi kurang efektif, termasuk dengan Ketua  Umum PDI Perjuangan,” kata Muradi kepada CNN Indonesia TV. Evaluasi terhadap pemerintahan Joko Widodo, menjadi salah satu agenda utama dalam Kongres PDI Perjuangan kali ini.

Agustinus Eko Rahardjo (CNN Indonesia TV)

This entry was posted in politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s