Bandung di Suatu Pagi…

Sudah terlalu banyak paket tayangan tentang kuliner dari Bandung. Apa yang menjadi pembeda?

Dalam pengerjaan tugas sekaligus Ujian Akhir Semester (UAS) Editing dan Pasca Produksi Universitas Multimedia Nusantara, kelompok ini memilih Bandung sebagai lokasi tujuan. Mereka yakni Guido Caesar, Nikolaus Harbowo, Dinda Ayu, Stefany, Nanda Harto, Efrem Ody, Prisilia, Enggar Subagyo, Rendy Ramadhan dan Rofiqoh Nur.

Bandung memang tempat yang menarik untuk diangkat sebagai tujuan wisata, khususnya kuliner. Persoalannya, karena terlalu banyak yang mengeksposenya, apa yang bisa membuat paket ini sebagai pembeda? Dimulai dari visual yang goyang di pintu keluar Tol Pasteur –mungkin rencana mengambil Gardu Tol Pasteur tak direncanakan sebelumnya, jadi baru berteriak-teriak dapat ide saat nyadar akan keluar?

Selanjutnya, soal musik latar sebaiknya diberi notice –semacam CG kecil, lagu siapa yang dimainkan dan apa judulnya. Masuk ke konten utama, pertemuan Rendy dan Dinda menjelajahi kuliner Bandung, alangkah hebring – nya tayangan ini jika banyak menampilkan CG tentang tempat yang dituju, serta keterangan pendek tentang lokasi itu. Grafis lokasi juga akan menjadi variasi yang menarik.

Dalam bahasan kuliner misalnya, mengapa Rendy dan Dinda tak mengeksplorasi lebih jauh, apa beda Soto Bandung, dengan Soto Betawi, Soto Banjar,  dan Soto Madura, misalnya? Juga terkait ulen bakar, banyak orang tak tahu, makanan macam apa ini. Seharusnya ditulis saja, apa bahan-bahan dasar membuat ulen, serta bagaimana proses dasar mengubah beras ketan menjadi makanan khas Sunda nan enak. Gambar pembuatan ulen memang ada, tapi cobalah dibantu dengan narasi, atau CG di layar tentang keterangan proses produksinya.

Selebihnya, visual sudah bagus, kecuali beberapa kali headroom terlalu mepet. Gambar Bandung di waktu pagi jadi penguat tersendiri.  Suasana natur tampak dengan kehadiran petugas kebersihan, pengecat rumah, dan pedagang sapu lidi diiringi Bubuy Bulan menambah magis dan suasana khas Sunda. Sayang, perpindahan ke sekuence berikutnya terasa amat kasar.

Terus berkembang, kawan, dan semakin hebring!

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s