Kembali, Karya Berkelas dengan Konsep Matang

Mereka hadir lagi, memenuhi kualifikasi sesuai spesifikasi tugas yang berbeda dari UTS ke UAS. Perencanaan kuat menghasilkan karya mantap.

Dalam mengerjakan sebuah project, jangan setengah-setengah. Pesan itu terbaca dari kelompok Salma Maudi, Henry Fadillah, Feby Shindya, Arvi Ginanthi, Dian Tamara, Alfiansyah Ramadhan, Amalta Rifani, Rahmi Febriani, Dwita Asri, Risa Hardianti, dan Soffi Amira Putri. Pada Ujian Tengah Semester lalu, kelompok ini menghasilkan karya’talk show’ yang keren, menghadirkan beberapa bintang tamu termasuk animator Marsha Chikita Fawzi –putri bungsu pasangan selebritis Ikang Fawzi dan Marisa Haque.

Untuk Ujian Akhir Semester mata kuliah Editing Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara kali ini, totalitas berkarya juga tampak dari setiap adegan yang mereka hasilkan. Pada UAS kali ini, arahan dosen hanya satu: profilkan tempat/destinasi. Soal dikemas dalam story seperti apa, itu mutlak kreativitas masing-masing kelompok.

Mereka memilih cerita pertemuan sepasang sahabat, Salma dan Reffi, yang terpisah  jarak dan waktu karena Salma menempuh studi di Eropa. Saat Salma berkesempatan kembali ke Jakarta, mereka pun berjanji bersua, dan mengalirlah cerita dari lokasi ke lokasi.

Galeri Nasional di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, digambarkan sebagai ‘museum yang kini disukai anak muda’. Banyak visual canti di situ, meski kurang dibuat detail. Minimnya CG dan grafis membuat paket ini menjadi kurang kaya. Seandainya saja dipasang denah menuju lokasi, jam buka, serta koleksi apa saja yang ada di Galnas, tentu akan menjadi kredit poin tersendiri.

Pasar Santa, digambarkan sebagai peruntuh mitos pasar sebagai tempat yang kumuh –sebagaimana ketakutan Salma, kuat dalam pemilihan angle. Tempat penjual koleksi album musik yang jarang dijumpai di lokasi lain, menjadi kekuatan istimewa. Detail cara membuat masakan di sini cukup mengobati penampilan sebelumnya yang tergolong ‘serba sekilas’ dalam membicarakan sebuah obyek.

Destinasi ketiga, kafe Paviliun 28 di kawasan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dari sudut pencahayaan. Masuk take selepas senja, mereka mencoba menampilkan gambar-gambar detail –dan itu bagus, dari gelas jumbo di atas meja. Sayang scenes  selanjutnya terganggu dengan pilihan mengambil gambar kerumunan pengunjung kafe. Segmen ini kembali menemukan rohnya saat visual mengclose-up pembuatan minuman, pop corn, sampai cuplikan screening film.

 

Dari sudut pengambilan gambar secara umum, pujian dilayangkan karena dapat mengambil visual Salma dan Reffi di belakang kemudi mobil dengan rapi. Hanya saja, kelompok ini harus lebih fokus dan fokus lagi. Dengan durasi yang terbatas, hadirnya empat destinasi terkesan terlalu memaksakan. Restauran Mercure yang menjadi tempat terakhir pun jadi dipertanyakan. Apakah lokasi ini sengaja dihadirkan karena lokasi makannya di ‘puncak’ –sebagaimana nama program ini adalah rooftalk? Jika sedikit bijak, satu destinasi bisa dicoret, sehingga bisa lebih detail dan pesan yang disampaikan jadi mengena.

Sekali lagi, karya ini ‘juara’ karena perencanaan matang. Seandainya bisa lebih menampilkan CG di beberapa bagian –jangan terlalu banyak juga karena cenderung dapat mengalihkan perhatian, tentu pemirsa akan merasa semakin terlengkapi.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s