Berkunjung ke Pulau Tidung

Kekuatan video perjalanan ke salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu ini ada pada konsepnya. Beauty shots, strong story. Tapi, bukan berarti tak ada kelemahan.

Perencanaan yang kuat menjadi kunci sebuah proyek peliputan. Termasuk untuk paket panjang perjalanan ‘You, Me, & The Sea’ dalam Ujian Akhir Semester mata kuliah Editing dan Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Bersebelas mereka menempuh perjalanan untuk menjadi sebuah kisah dalam program televisi tiga segmen: Svaradiva Anurdea, Arum Kusuma, Cosmas Bayu, Christina, Nadia Ayesha, Elisabeth Sonia, Johannes Doli, Ristania Tiara, Fellya Hartono, Aliefia Nada Malik, dan Cornelius Bintang.

Dua tokoh menjadi sentral cerita. Dikisahkan sepasang sahabat, Bayu dan Nadia, yang ingin melepas kepenatan dari kesibukan Jakarta. Berangkat dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, keunggulan liputan ini tampak saat menyertakan grafis di mana lokasi Pulau Tidung, di antara gugusan Kepulauan Seribu. Meski namanya Kepulauan Seribu, satu-satunya kabupaten di wilayah DKI Jakarta itu sejatinya hanya berjumlah 342 pulau, yang terbagi dalam dua kecamatan. Ada dua kecamatan di kepulauan ini, salah satunya Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan yakni membawahi tiga kelurahan yaitu Kelurahan Pulau Tidung, Kelurahan Pulau Pari, dan Kelurahan Pulau Untung Jawa.

Hadirnya kamera ‘go pro’ menunjukkan kerseriusan karya. Gambar cantik menjadi keunggulan karya ini.

Hadirnya kamera ‘go pro’ menunjukkan kerseriusan karya. Gambar cantik menjadi keunggulan karya ini.

Grafis posisi Pulau Tidung sangat membantu penjelasan di awal segmen pertama. Meski grafis itu terlihat terlalu cepat, dan kurang menyertakan jalannya kapal dari Muara Angka, serta menuliskan ongkos yang ditempuh. CG –character generator alias tulisan di layar untuk ‘guidance’ pemirsa- yang nyaris kosong menjadi kelemahan tayangan ini. Banyak variasi bisa ditampilkan di CG, misalnya untuk sekadar menulis ‘next, atau selanjutnya’ pada jelang pergantian segmen. Atau CG untuk menyampaikan tips bagaimana berkelana di Pulau Tidung. Termasuk bagaimana mencari penginapan, lokasi wisata yang wajib dikunjungi, harga makanan minuman, dan lain-lain.

Kelebihan program ini tampak dalam penggarapannya yang serius, dengan planning kuat. Dalam eksekusi, angle visual yang bervariasi menjadi nilai plus tersendiri. Misalnya, saat mengambil Bayu dan Nadia di atas boat dari atas. Namun, penerangan yang minim saat gambar malam menjadi catatan khusus. Untuk pasca produksi, penulisan lagu yang menjadi musik latar menjadi kredit poin. Ini menyangkut orisinalitas karya, dan menghargai hak cipta orang lain.

Kesan peliputan

Dalam pengerjaan sebuah proyek, tak jarang ‘benturan’ terjadi.Itu juga yang mereka alami. Meski mereka merupakan teman dekat sejak semester pertama, konflik internal menjadi hal tak terelakkan. “Kami ditantang untuk saling adu argumen dan mempertinggi rasa toleransi, serta bagaimana caranya untuk tetap mempertahankan pertemanan kami apapun yang terjadi.,” kata Svaradiva Anurdea.

Mengatasi konflik demi karya. Kekompakan pelajaran berharga.

Mengatasi konflik demi karya. Kekompakan pelajaran berharga.

Adapun Arum Kusuma sekaligus asisten produser, camera person,dan editor mengaku salah satu masalah yang dihadapi adalah pencahayaan. “Cuaca di Pulau Tidung sangat terik dan membuat pencahayaan sangat terang. Sulit untuk menentukan apakah gambar di kamera sudah fokus atau belum saking silaunya,” papar Arum.

Fellya Hartono yang menjabat program director menjabarkan, awalnya mereka bersepakat melakukan pengambilan gambar di Pantai Pangandaran. Hingga terjadi perdebatan dan destinasi pun berubah ke Kepulauan Seribu. Meski demikian, kekompakan menjadi kunci utama saat keputusan telah diambil. “Saat produksi dilakukan, kami benar-benar merasa seperti keluarga yang sedang berlibur akhir pekan. Begitu pula saat pasca-produksi, hampir satu minggu kami melakukan peng-editan bersama di ruang editing kampus,” kisah Fellya.

Untuk menghasilkan karya yang hebat, mereka telah belajar bagaimana menjadi sebuah tim dan menaklukkan ego pribadi. Proficiat!

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s