Memprofilkan Dosen Penuh Kesederhanaan

Feature ini mengangkat profil seorang tokoh. Idenya menarik, sayang kurang mengeksploitasi visual-visual cantik yang menggambarkan sisi personal Pius Pope.

Di antara kawan-kawannya peserta mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tri Handelaswan, Yosephina Indah, Alvian Eka Putra, dan Satria Yudha punya gagasan cemerlang dalam mengerjakan ujian akhir semester Feature Media Siar.

Mereka memilih memprofilkan orang, atau mengangkat seorang tokoh. Proximity alias kedekatan tokoh yang diambil oke juga, karena hampir semua mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMN pasti mengenalnya: Pius Pope, seorang dosen senior mata kuliah radio. Pria yang juga dikenal sebagai penyiar serta instruktur vokal ini dipilih karena keunikannya, serta semangat juang, seorang pria 76 tahun tapi masih aktif berkarya.

Diawali dengan aktivitas Pope mengajar di jurusan public relations Universitas Negeri Jakarta Rawamangun, disertai vox pop seorang mahasiswi, visual dan narasi berlanjut dengan pujian atas seorang berusia senja nan penuh kegiatan. Sampai di sini, visual Pope berjalan di kampus dan menunggu angkot menjadi altenatif yang layak dipuji, karena visual wawancara di rumah Pope tak cukup memadai (agak gelap).

 

Biasakan menampilkan visual yang selaras dengan narasi. Saat cerita mengangkat kisah Pope yang ditinggal isterinya wafat dua tahun silam, selayaknya visual memunculkan hal selaras: misal foto isteri atau kenangan mereka berdua. Seharusnya tak sulit mencari visual seperti itu di rumah seorang tokoh.

Kritik lain, dari visual menyorot tokoh, jangan biasakan mengambil tokoh yang sedang berbicara (goldfishing) sebagai insert. Pilih visual lain. Untuk upaya mengikuti seorang narasumber selama dua hari, visual yang ditampilkan dalam feature berdurasi 3 menit ini sangat minim. Sayang memang, mereka gagal mendapatkan izin untuk mengambil Pius Pope saat memberikan kelas kepada presenter Metro TV. Sebenarnya, untuk lobby, seharusnya bisa dicoba lebih keras. Misalnya dengan menyatakan, “Sedang membuat film dokumenter tentang Pius Pope.”

 

Bagaimanapun, salut untuk ide kreatif memprofilkan ‘campus legend’ ini. Koreksinya tinggal pada visual yang tajam dan bercerita. Karena jurnalisme televisi selalu berbicara tentang kekuatan visual.

That’s it.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s