Memutar Kenangan Bersama Harmoni si Hitam

Feature tentang toko penjual piringan hitam yang kini amat langka. Ide bagus, tapi eksekusi dan pasca produksinya seharusnya bisa lebih matang.

Sebagai Tugas Ujian Akhir mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara, Fran Sisca, Fitria Githa, Christyana Caroline dan Shabrina Aulia memilih topik profil toko Lamasia, penjual piringan hitam dan benda-benda unik di Blok M Square. Ide yang menarik, karena paket feature ini mencoba membangkitkan nostalgia, khususnya bagi pemirsa golongan usia tertentu, yang di era 1970-an amat akrab dengan piringan hitam serta pemutarnya, sebagai dua alat saling melengkapi untuk menikmati musik.

Sisca tampil percaya diri sebagai reporter stand-upper yang membawakan piece to camera dari tumpukan piringan hitam di Lamasia. ‘Belanjaan’ visual, baik di lokasi Blok M maupun footage youtube juga cukup banyak dan memadai.

Beberapa kritikan paket ini, suara yang jumping (tidak dalam kualitas yang sama saat Sisca dua kali on-cam –yang sebenarnya sudah menggunakan clip on-, serta wawancara pelanggan toko). CG alias Character Generator yang seharusnya menjadi pengarah bagi pemirsa kurang ditampilkan optimal, kecuali saat menulis nama narasumber. Seharusnya, dalam setiap topik yang berganti-ganti setiap sekian detiknya, CG muncul sesuai bahasan dalam narasi, termasuk nama dan alamat lengkap toko di akhir paket. O ya, saat menyebut narasumber Nino seharusnya atribusi yang benar dalam CG yakni ‘Pelanggan’ bukan ‘Langganan’. Sayang pula, audio Nino kurang optimal.

Selain itu, ingatlah bahwa jurnalistik televisi harus hati-hati saat menarasikan list. Saat voice over awal paket ini menyebut jenis-jenis musik dan penyanyi tempo dulu (di sekitar menit 1:25), apa yang disampaikan di narasi tak selaras dengan piringan yang diperlihatkan alias terlalu cepat. Durasi 4 menit 20 seken juga terlalu panjang untuk sebuah paket feature. Beranilah memotong hal-hal yang tak perlu, sehingga akhirnya paket feature tak lebih dari 3 menit.

Overall, komposisi pengambilan gambar, musik latar, serta mencoba menampilkan ‘variasi show’ dalam paket ini sudah oke, meski kurang greget, Misalnya, mengapa Sisca tak mencoba melakukan PTC partisipatif menghidupkan piringan hitam dalam pemutarnya. Juga kurang komplet menjelaskan soal kisaran harga piringan hitam yang dibuat Udin. Saat Udin menjelaskan perawatan piringan hitam, akan menarik bila muncul visual bagaimana ia memelihara barang-barang berharga itu.

Great jobs, team!

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s