Meliput Acara Sosial Tanpa Membosankan

Liputan acara charity atau bakti sosial memiliki tantangan tersendiri. Harus pintar-pintar mengemas agar penonton tak merasa garing, dan ujung-ujungnya pindah kanal saluran televisi.

Dinda Amuranti, Agnesia Shinta, dan Winda Arleta mengerjakan Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Jurnalistik STIKS Tarakanita berupa take home test liputan Natal dengan angle berbeda. Topiknya tetap perayaan Natal, tapi dalam kemasan bakti sosial di panti asuhan, mengikuti aksi yang dilakukan petinggi perusahaan salah seorang anggota kelompok ini.

Maka Dinda pun mewawancarai Erin Lloyd di Panti Asuhan Mekar Lestari, Bumi Serpong Damai. Ini panti yang memiliki dengan tagline “Save, Love and Reunite Them”,  membantu para wanita korban pemerkosaan, pergaulan bebas atau mereka yang mempunyai masalah finansial, agar tak terjerumus melakukan aborsi.

Nilai lebih karya ini, topiknya yang berbeda dengan lainnya. Durasi pun oke, dalam 2 menit 51 detik dapat merangkum acara, wawancara dan PTC (piece to camera) Dinda. Runtutan visual pas, karena dimulai dari sequence lokasi panti, lalu menuju acara. Keputusan memberikan subtitle atau terjemahan wawancara dalam bahasa Inggris sangat membantu pemirsa mengetahui pesan dalam pembicaraan ini.

Nilai minus alias yang harus dipoles, yakni kurang detail menampilkan anak asuhan, yang menjadi obyek utama acara. Maksudnya, bukan hanya saat mereka menyanyi atau menari, tapi bagaimana keseharian para penghuni panti asuhan, korban aborsi gagal, dan sebagainya. Dengan visual yang berbicara, diharapkan pemirsa bisa menyaksikan kondisi riil panti asuhan ini, dan terbaca betapa mereka sasaran tepat untuk charity event. Kekurangan lain ada pada audio yang kurang memadai, serta belanjaan visual minim, seharusnya bisa ditampilkan di sela-sela dialog antara Dinda dan Lloyd. Pada pengambilan gambar groupshot (dua orang dalam satu frame) saat wawancara ini, perlu diperhatikan headroom, alias ruang atas di antara kepala obyek. Beberapa kali headroom Dinda dan Erin Lloyd terlihat terlalu mepet.

Seandainya, gambarnya lebih banyak, bisa ditampilkan di antara paket yang tak banyak –daripada hanya me-roll wawancara tanpa insert- liputan ini akan lebih enak dilihat.

Anyway, good job, Dinda, Agnes, dan Winda!

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s