Kreasi Kreatif Dekor Kok Badminton

Salah satu video yang dihasilkan dari pelatihan videografi Paroki St. Agustinus Karawaci. Out of the box, kreatif, seperti juga isi kontennya.

Karya Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Gereja Karawaci ini memotret bagaimana pilihan dekorasi natal yang terbuat dari bahan bulu angsa alias shuttlecock atau kok bulutangkis. Dengan ribuan kok bekas, terciptalah pohon natal raksasa serta replika kandang kelahiran Yesus.

Sisi asyik video ini, karena ia ditampilkan dari sisi saat pohon Natal itu sudah jadi. Dari adegan beberapa anggota jemaat ber-selfie di depan hiasan kok itu, cerita dibawa ke bagaimana proses pembuatan hiasan nan kreatif. Visual dan narasi pun selaras, dari cerita permainan bulutangkis nan boros bulu angsa, sampai bagaimana Wanita Katolik (WKRI), Orang Muda Katolik (OMK) serta bapak-bapak, menerima lalu memilah serta membangun hiasan dari kok.

Belanjaan visualnya kaya, editingnya mantap, dubbing/VO-nya kuat, serta ilustrasi musik latar yang pas, tidak terlalu kencang saat pengisi suara membacakan voice over naskah. Kalaupun ingin dibuka kelemahannya, tentu saja masalah durasi. Untuk sebuah paket berita televisi, 5 menit 23 detik jelas sangat over, melebihi paket berita (hard maupun soft news) yang rata-rata 2 hingga 3 menit.

Evaluasi durasi

Workshop videografi Paroki Karawaci. Pengenalan audio visual pada gereja.

Workshop videografi Paroki Karawaci. Pengenalan audio visual pada gereja.

Di sinilah memang tantangan menjadi produser dan editing. Bagaimana bisa ‘tega’ menghabisi karya tim sendiri, atau karya orang lain yang harus disupervisi. Termasuk memotong cuplikan homili atau pesan Natal yang terasa terlalu panjang. Untuk sebuah pernyataan (sound of tape/SOT) di televisi, maksimal pilihlah 20 detik yang paling “nendang” dari ucapan narasumber. Kritik lain, editing perpindahan gambar yang kurang smooth dan terlalu sering menggunakan ruang ‘black’ terlalu lama sebagai jembatan antar adegan. Kelemahan lain, tak ada tokoh yang diwawancarai, padahal ada tiga unsur di sana –bapak, ibu, dan relawan anak- untuk mengutarakan pendapatnya.

Anyway, sebagai hasil nyata pelatihan videografi awal Desember lalu, video ini memuaskan sekali. Hanya saja, seharusnya lebih berani mengepras visual, scene atau pernyataan yang tidak perlu.

Keep growing, teruslah berkembang, guys!

This entry was posted in feature and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s