Hari ke-25 di Hawaii: Ketika Tenaga Manusia Kian Langka

Orang-orang dari negeri maju sering geleng-geleng kepala, mengapa di Indonesia sebuah pekerjaan sederhana harus dilakukan oleh lebih dari satu orang?

Sewa DVD swadaya.  Mengurangi tenaga kerja bergaji tinggi.

Sewa DVD swadaya. Mengurangi tenaga kerja bergaji tinggi.

Saya pernah membonceng motor seorang kolega dari Australia. Lokasi pertemuan kami ada di sebuah hotel di kawasan Ambassador, Jakarta Selatan. Saat keluar dari hotel –as always, motor selalu dianaktirikan soal tempat parkir- kawan ini heran. “Masak untuk urusan parkir saja butuh orang sebanyak itu?” tanyanya. Maklum, untuk keluar dari parkiran, setidaknya ada 3 petugas yang kami temui. Bagian pembayaran tiket, pengecekan STNK dan satu orang lagi, atau dua ya?, pria yang bertugas mengarahkan motor menuju lorong-lorong selanjutnya. Betapa tidak efektifnya! (Setidaknya menurut kawan tadi).

Dan memang begitulah, di negara maju, keberadaan sumber daya manusia kian terpinggirkan. Untuk parkir semacam tadi, kebanyakan tak perlu petugas di lokasi. Bayar pakai kartu gesek –sebagaimana semua transaksi di Barat nyaris tak ada yang cash. Gesek atau via online, juga tak perlu ada pengecekan STNK dan bagian pemberi aba-aba jalan. Itu baru satu contoh pekerjaan.

Apa alasan kian langkanya tenaga manusia? Tentu karena jumlah penduduk tak banyak. Selain itu, upah buruh juga tak murah. Pekerjaan part time dihargai sekitar 7-8 dolar sejam. Jadi, kalau bisa tak pakai tenaga manusia, sedapat mungkin semua dilakukan dengan mesin.

Sewa DVD otomatis

Pompa bensin di Kihei, Maui. Tak ada manusia melayani.

Pompa bensin di Kihei, Maui. Tak ada manusia melayani.

Di sebuah mal di kota Pakulani, saya menyaksikan bapak dan anak menggunakan mesin peminjam DVD. Semua bisa dilakukan tanpa bantuan petugas. Memilih judul film, membayar, terima DVD-nya, dan juga ada lobang khusus untuk pengembalian cakram padat.

Begitu pula untuk stasiun pengisian bahan bakar umum, alias pompa bensin. Nyaris tak ada SPBU yang ada petugasnya. Semua swadaya. Bayar, pilih berapa galon, lalu cabut dan alirkan sendiri BBM-nya dari selang. Jujur? Tentu saja itu sudah bukan jadi persoalan yang harus dibahas. Tapi, lebih dari jujur, kadang mental untuk dilayani masih sulit dikikis di masyarakat kita. Tak usah jauh-jauh menunjuk orang, saya termasuk menghindari isi bensin di SPBU Ciledug dan Gading Serpong, karena di sana sudah memberlakukan sistem layanan sendiri. Ogah repot, ogah bensin tumpah.

Juga di mal atau mini-mini market. Keberadaan petugas yang kadang berlebih membuat kita terkadang jadi ‘manja’. Sedikit-sedikit memanggil petugas Alfamart, Indomart, Giant, atau Carefour, “Mbak, tempat shampoo di mana? Mbak, Milo 400 gramnya habis ya?” Di Amerika mau coba tanya-tanya gitu? Hadeh.. petugasnya sangat terbatas, dan semua terkonsentrasi di mesin kasir.

Ada positifnya, ada kurangnya. Tapi, itulah negara maju. Tenaga manusia kian mahal, jumlahnya sedikit demi sedikit mulai diganti ‘robot’.

Salam SDM efektif dari Maui, Hawaii…

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s