Hari ke-18 di Hawaii: Awas, Kusampaikan ke Ibu Mertuamu!

Ini salah satu subyek paling menarik selama pelatihan di sini. Sesi “Comunicating Effectively’. Termasuk di antaranya, teori dan praktek menjadi ‘The Speechmaker’.

Berlatih menjadi 'The Speechmaker'. Jangan lup. 'connecting with audience'.

Berlatih menjadi ‘The Speechmaker’. Jangan lupa untuk ‘connecting with audience’.

Menjalani tujuh sesi tentang komunikasi memberi rasa asyik tersendiri. Bukan hanya karena saya merasa bahwa “Ini bidangku, jadi jangan sampai ngantuk,” tapi juga karena pembawaan pembicaranya. Begitulah, mau rapat, mau seminar, atau kuliah, dua faktor yang mampu membuat audiens tetap terjaga selalu terkait apa subyeknya dan bagaimana cara membawakannya.

Fasilitator kami berasal dari sebuah negara di Afrika. Seorang ekspert di bidang komunikasi. Selain gayanya yang antusias, bicara meledak-ledak, dan sering menyebut nama audiens, satu keunikan lain yakni celetukan lucunya. Sering sekali pria ini berucap joke, “Hei, I’ll tell it to your mother-in-law. Jangan macam-macam, akan saya bilang ke ibu mertuamu.” Hahaha..

Ibu mertua. Rupanya, tidak di negara timur atau barat, posisi ibu mertua menjadi semacam ‘momok’ bagi laki-laki. Posisi tawar ibu mertua yang tinggi menjadikan seorang laki-laki –sebesar dan setinggi apapun jabatannya- kerap hanya tertunduk kalau ibu mertuanya marah.

Teori dan praktek

Simulasi berorasi. Jaga energi, antusiasme, dan kepercayaan diri.

Simulasi berorasi. Jaga energi, antusiasme, dan kepercayaan diri.

Salah satu kalimat kunci yang kami dapat agar bisa menjadi pelaku ‘public speaking’ yang baik yakni ‘Think Audiences and Paint Pictures’. Bagaimana membuat sebuah orasi yang tidak menjemukan, yakni dengan membuat imajinasi di kepala pendengar kita.

Tips lain sebenarnya cukup umum. Milikilah persiapan yang cukup. Riset topik berdasarkan pengetahuan atau pengalaman. Datanglah lebih awal, berpakaian yang tepat, jaga kontak mata, serta variasikan intonasi suara serta ekspresi wajah sesuai ‘mood’ pesan yang disampaikan.

Selain itu, pakailah juga prinsip AIDA, sebuah hukum yang amat kondang di dunia komunikasi: Arrest (A)ttention, Create (I)nterest, Arouse (D)esire, dan Appeal for (A)ction.

Dalam sesi praktek, kami dibagi dalam beberapa kelompok menurut topik berbeda. Kelompok saya kebagian soal: bagaimana memberikan sambutan terhadap seorang baik yang baru saja meninggal dunia. Maka, setiap dari kami pun bergantian melakukan simulasi, dengan waktu yang dijaga ketat -3 menit- seolah-olah berpidato di hadapan puluhan atau ratusan pelayat di sebuah pekuburan nan ramai.

Sebelum merancang outline pidato demi tugas itu, tak lupa sang fasilitator memberi motivasi. “Kalian harus membuat speech sebagus mungkin. Karena kalian tak akan pernah tahu, orang penting siapa yang akan hadir di acara itu. Bersiaplah, jangan-jangan Barack Obama datang…

atau siapa tahu, ibu mertuamu juga bakal hadir mendengarkan pidatomu…”

Hahahaha..

Salam untuk ibu mertua Anda dari Maui, Hawaii…

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hari ke-18 di Hawaii: Awas, Kusampaikan ke Ibu Mertuamu!

  1. Anta says:

    Saatnya pendeta belajar tentang ini supaya jamaah gak “bunuh diri.”🙂

  2. jojoraharjo says:

    Hahaha, betul, Anta!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s