Hari ke-14 di Hawaii: Indahnya Berbagi, Meski Bekas

Di beberapa negara, ada tempat khusus untuk mendapatkan barang murah. Meski seken sih…

Salvation Army Kihei, menjual barang seken sumbangan. Dananya buat amal.

Salvation Army Kihei, menjual barang seken sumbangan. Dananya buat amal.

Di hampir setiap kota di Belanda, ada namanya kringloop. Toko barangbekas yang menyediakan berbagai macam barang. Harganya miring, karena ternyata bukan barang baru. Namun, kalau mata bisa ‘ganas’ melihat barang bagus, barang yang dibawa akan berkualitas. Bisa jadi, karena pemiliknya tak butuh lagi. Bisa jadi karena barangnya sudah kekecilan. Bisa jadi yang punya sudah tiada. Atau bisa jadi karena yang punya akan pindah rumah ke lain kota, dan enggan membawa banyak barang.

Saat kami, sekelompok anggota Aliansi Jurnalis Independen berkesempatan belajar tiga pekan di Belanda empat tahun silam, beberapa kawan pamer mendapat barang lumayan keren. “Ini sepatu bagus, murah, Jo,” kata Jacko, yang kini jadi koordinator peliputan di Berita Satu TV, membanggakan sepatu gunung sekennya. Sepatu itu didapatnya di Kringloop kota Bussum, dengan harga tak sampai 10 euro.

Barang berputar di Salvation Army

Tampak dalam toko barang seken Salvation Amry. Nyaris semua item barang ada di sini.

Tampak dalam toko barang seken Salvation Amry. Nyaris semua item barang ada di sini.

Di Kihei, Hawaii, ini, kami menemukan Salvation Army Thrift Store. Barang bekas juga, tapi motifnya berbeda. Dikelola oleh gereja Salvation Army –di Indonesia kita menyebutnya Bala Keselamatan- barang-barang sumbangan itu diberikan dengan dasar kerelaan. Hasil penjualannya akan digunakan untuk kepentingan pelayanan kemanusiaan.

Sebutlah, barang apa yang tidak ada di sana. Sejauh mata memandang, saya menemukan sofa, koper, blender, buku-buku berbagai genre, puzzle, sepatu, jas, lampu, tongkat dan bola golf, aneka hiasan dinding, dan barang-barang pecah belah. Buka setiap hari, toko barang bekas dari lembaga rintisan William Booth ini menjadi sasaran mereka yang perlu barang dengan fungsi bagus. Tak perlu baru, tak perlu branded, yang penting fungsinya oke. Persoalan fungsi memang menjadi catatan penting, karena toko itu menulis, “Jangan menyumbangkan barang rusak, karena kami bukan tempat reparasi.”

Sebuah pelajaran saling berbagi. Bukan untuk modus dagang atau yang penting kembali modal. Tapi memberi bagi yang membutuhkan. Dan dananya diputar lagi untuk kegiatan lain nan berguna.

Salam berbagi dari Maui…

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Hari ke-14 di Hawaii: Indahnya Berbagi, Meski Bekas

  1. Istanamurah says:

    ya benar sekali, walau bekas asal bisa membantu yang membutuhkan maka itu sangat berarti sekali gan, lanjutkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s