Hari ke-3 di Hawaii: Mencintai Makanan, Mencintai Kebudayaan

Mengenal dunia nan beragam ini dapat dimulai dari mencintai berbagai macam cita rasa makanan dari negara lain.

Breakfast menu: Mexican sausages. Mencecap lidah latin.

Breakfast: Mexican sausages. Mencecap lidah Latin.

Sejak awal sebelum menjejakkan kaki di Hawaii, panitia training ini sudah memberikan email arahan. Di antara berbagai pasal petunjuk soal imigrasi, bagasi, tiket perjalanan, pakaian yang mesti dibawa dan lain-lain, ada item khusus mengenai makanan yang akan kami santap selama 25 hari acara di Maui, Hawaii itu. Ringkasnya, pengumuman itu berbunyi:

“Meals are provided buffet-style from a fixed menu everyday. If you have special dietary restrictions, written medical evidence must be submitted before your arrival.

Although it’s impossible to have food that will suite the tastes of every participant, through the years we have found that the menu prepared is agreeable to most participants and provides you with choices.

Learning to eat food that is different from what you routinely eat at home is part of the inter-cultural learning experience.”

Nah, menikmati makanan dari berbagai menu dunia menjadi keasyikan sendiri dari acara tiga pekan yang diikuti 61 peserta dari 29 negara ini. Saya pun harus siap tak selalu menemukan nasi di setiap ajang breakfast, lunch, maupun dinner.

Aneka menu

Mari bersalmon di Hari Batik. Jelajahi cita rasa dunia.

Mari bersalmon di Hari Batik. Jelajahi cita rasa dunia.

Dua hari lalu misalnya, sarapan pagi diisi dengan Mexican Sausages –yang tenu saja berisi sayur, telur, dan sosis. Kadang pula kami disajikan makanan ala India, semacam roti cane dan bumbu kari. Sementara kemarin kami seperti dibiasakan makan ala penduduk tepi pantai: donat-donat berukuran kecil, lembaran salmon mentah, kuning telur, dan krim keju. Untuk minum ada pilihan jus lemon, orange, atau ‘filterred water’. Tentu saja kadang-kadang ada nasi putih, dengan pilihan lauk: beef, chicken, atau mungkin pork. Untuk setiap menu utama selalu ada alternatif yang nyaris tak pernah saya sentuh: salad dan roti bakar.

“Kamu tak suka salad, Jojo?” kata seorang kawan dari Filipina di makan siang kemarin.

“No. I missssss riceeeee,” jawab saya. Ah, jadi teringat, bahkan saat dua tahun lalu berkunjung ke Gedung Capitol di Washington DC, saat lari ke restoran Capitol Visitor Centre, yang saya cari juga tak jauh dari nasi goreng.

Di antara makanan-makanan berat itu selalu tersedia buah-buahan, yang biasanya terdiri dari melon, anggur, dan strawberi.

Menikmati kebudayaan negara-negara di dunia ini, termasuk di antaranya dengan mencecap makanan yang tak biasa kita nikmati. Kalau teruji secara makanan, harusnya kita sudah bisa ‘toleran’ terhadap kultur internasional…

Mau mencoba menyajikan menu internasional beberapa hari sekali di dapur keluarga Anda?

Mahalo, terimakasih, salam dari Maui, Hawaii, US

 

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s