Belajar Menjadi Pembuat Film Dokumenter

Merekam peristiwa nyata yang didokumentasikan dengan baik, melalui proses pascaproduksi yang ekselen, merupaka sebuah pengalaman berharga. Karena peristiwa tak bisa diulang. Inilah awal menjadi pembuat film dokumenter. Berangkat dari sebuah ‘sejarah’.

Gavrilla Gertruida memberi sensasi khusus pada paket berita liputan May Day yang dibuatnya. Suara musik nan menghentak –meski pada beberapa kesempatan terdengar terlalu kenceng dan mendominiasi- menjadi kekuatan tersendiri pada paket liputannya.

Gambar-gambar yang diambil Vrilla tajam dan jernih, dengan kuatnya pilihan ‘scene’, serta wawancara dengan peserta aksi dengan semangat tersendiri. Sedikit masukan, menurut saya sih, penulisan nama organisasi buruh yang diwawancarai itu ‘independen’, bukan ‘independent’.

Dengan mengasah pengambilan gambar yang kuat, scoring atau musik latar nan sesuai, dan urutan story yang asyik, Vrilla memulai langkah keren sebagai calon pembuat film dokumenter.

Proses produksi

Belajar dari pengalaman sebelumnya, liputan kampanye pada Ujian Tengah Semester. Vrilla memperbaiki dari segi persiapan, angel, topik yang ingin dicapai, dan tentunya durasi yang baik untuk paket berita.

Persiapan yang dibutuhkan berupa kamera DSLR Nikon D600, dan microphone shoot gun. “Untuk persiapan jangka panjang, saya membentuk daftar pertanyaan dari angle yang ditentukan, mengikuti perkembangan buruh zaman sekarang ini, apa yang dituntut dan apa yang telah diluluskan dari harapan para buruh,” papar Vrilla.

Vrilla mendapat kesan banyak dari liputan ini, yakni memperoleh pengalaman baru.” Tak berbeda jauh dari peliputan kampanye, kita harus sigap melihat angel yang menarik dan tetap tenang saat ada di lapangan,” tegasnya. Catatan lain, jangan terlalu panik dan pusing dengan suasana kebisingan di lapangan, serta harus berpikir cepat, cekatan, dan tahu harus berdiri di posisi mana.

Ia juga menuliskan kendala yang dialami: cuaca panas, sulit mencari narasumber yang sesuai/kompeten ditengah keramain, ancaman keselamatan dan keamanan. Berlari-lari mengejar momen dengan menjaga keseimbangan dan alat yang dibawa.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s