Huru-Hara Hari Buruh?

Liputan Aliefia kaya visual. Beberapa catatan menjadi masukan. Selain soal istilah, juga kurang greget tanpa wawancara.

Hampir tiga menit show diiringi bumper dan musik pengiring BBC News, paket liputan Aliefia Nada Malik awalnya tampak menggigit. Tapi, apakah benar dibilang berlebihan jika headlinenya dianggap terlalu lebay, dengan memberi judul ‘Huru-Hara May Day 2014’, ‘Jakarta Mampet Akibat Demo Buruh’?

Dengan visual dari berbagai angle, liputan ini amat keren. Berbagai elemen buruh diambilnya. Mulai buruh sampai jurnalis yang beraksi. Meski memang ada kekeliruan saat ia menyebut Aliansi Jurnalis Indonesia, padahal yang benar harusnya Aliansi Jurnalis Independen.

Cukup menggelitik juga melihat split Alief ber-stand-up di depan jalanan M.H Thamrin yang lengang, sementara ia berbicara tentang kemacetan. “Terjadi kemacetan sepanjang dari ujung Monas sampai GBK,” papar Alief sambal menunjuk lahan yang kosong. Kalau bicara kemacetan, mengapa tak ‘on-cam’ di depan mobil-mobil tersendat, di depan aksi buruh, atau bahkan dari atas jembatan penyeberangan?

Proses liputan

Menurut Aliefia peliputan dimulai pukul 10 pagi, dan saat itu situasi di Bundaran HI sudah ramai sehingga semua penumpang Transjakarta diminta untuk turun di Halte Transjakarta Tosari.

“Terasa kesan gempita dari para buruh untuk menyuarakan apa yang menurut mereka tidak adil. Selain itu juga dapat merasakan bagaimana mengikuti sebuah rombongan besar menguasai Jakarta selama sehari dan mendapatkan kesempatan untuk meliput aksi massa,” paparnya.

Tidak hanya itu, liputan ini dianggapnya memberikan rasa tenggang terhadap kaum buruh yang menginginkan kesetaraan upah dan lain sebagainya. “Liputan ini merupakan latihan untuk mahasiswa, apakah mereka terlalu terbawa suasana sehingga hasil liputan yang dibawakan malah hanya meliput satu sisi atau tidak,” urai Alief.

Selama peliputan, alat yang dipakai adalah kamera Canon DSLR dan tripod. Lalu yang disayangkan adalah tidak disertakan microphone pada saat peliputan Hari Buruh dikarenakan tidak ada yang memiliki alat tersebut. Karena itu pula, liputan Alief jadi tanpa wawancara narasumber.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s