Karena ‘Jurnalisme TV’ Bukanlah ‘Jurnalisme Katanya’

Berita TV punya slogan, ‘Show It Don’t Tell’…

Tesya Claudia Ariesta menampilkan liputan bernuansa semangat tinggi. Beraksi di depan motor-motor pengunjuk rasa –meski gambar latarnya kabur dan tak jelas, Tesya tampak sangat antusias. Tak ubahnya saat ia meliput kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang juga penuh energy.

Namun, satu hal yang harus dicatat, selain penyebutan Istana Negara untuk tempat yang seharusnya diucap sebagai Istana Merdeka, Tesya tak menampilkan SOT atau kutipan langsung narasumber hasil wawancaranya. Entah bertemu langsung atau mewawancarai Rikson Silaban, Tesya bercerita mengenai pendapat Ketua The Labour Institute itu bahwa saat ini yang harusnya dilakukan pemerintah adalah pengendalian inflasi.

Sayang, mengapa ia hanya mengutip ucapan dari omongan orang yang mungkin dimuat media, dan bukan dari ucapan langsung hasil wawancara. Karena jurnalisme televisi bukanlah jurnalisme koran, bukan jurnalisme katanya…

Dalam liputan ini, Tesya mengaku harus beberapa kali take stand-up, karena kendala suara latar di sekitarnya. “Setelah melakukan take berkali-kali, dan semuanya gagal dikarenakan terlalu banyak noise, akhirnya dari beberapa video saya hanya satu yang dapat saya gunakan,” kisahnya.

Tetap semangat Tesya, semangat boleh, tapi jaga pace suara, jangan terlalu kecepatan…

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s