Nyanyian Kemenangan Buruh yang Terlupakan

Liputan Sarah kuat di awal dan akhir, sayang tak ada narasumber diajak serta.

“Merah merah t’lah dikibarkan, tanda mulainya pembalasan

Dengan diskusi dan aksi massa, kami siap melawan

Sampai kami yang menang, jangan kembali pulang

Sebelum kita yang menang, walau harus mati..”

Inisiatif Sarah Nafisah mengambil cuplikan gambar youtube ini boleh juga. Bagaimana ia menampilkan buruh-buruh menyiapkan ‘nyanyian kemenangan’ sebelum berangkat unjuk rasa. Satu yang harus dipuji, Sarah jujur mencantumkan, gambar itu didapat dari youtube.

Saat on-cam, pandangan Sarah juga lurus menatap ke depan. Pace suaranya pun tertata baik, tidak tersengal-sengal, serta jelas makna pesan yang disampaikan. Pun demikian saat menampilkan insert visual. Selaras dengan apa yang dinarasikannya.

Sayang memang, di tengah keriuhan aksi massa menjadi latar atau ‘blocking’ on-camnya, tak ada satupun buruh yang diajaknya wawancara. Padahal, wawancara dengan narasumber menjadi penting dalam sebuah liputan, karena di situlha terlihat orisinalitas karya reporter, selain menumbuhkan ‘aroma’ live dalam sebuah liputan di kerumunan.

Kesan liputan

Sarah menganggap, liputan aksi Hari Buruh ini amat rumit. “Saya sama sekali tidak tahu medan. Juga teknis demo seperti apa,” kenangnya. Kebingungannya bertambah karena banyak sekali orang yang juga meliput. Seringkali rekaman videonya gagal, akibat banyaknya orang yang lalu lalang sambil membawa kamera. Ia pun harus benar-benar menunggu waktu yang tepat untuk merekam aksi demo ribuan buruh itu. “Akibatnya, saya banyak ketinggalan momen-momen yang sebenarnya bagus untuk direkam,” ungkap Sarah.

Tapi, bagaimanapun, Sarah menganggap liputan May Day paling mengesankan. Setidaknya, jika dibandingkan saat liputan kampanye Partai Gerindra pada UTS lalu. “Saya jalan mengikuti buruh dari Bundaran HI menuju Monumen Nasional, jaraknya lumayan jauh. Pergerakan para buruh pun sangat cepat,” kisahnya. Saat ia istirahat sebentar untuk makan, tiba-tiba buruh yang ada di Monas sudah sepi. “Saya jadi panik karena belum standup. Tapi, seru sih karena pengalaman baru,” cerita Sarah yang bersenjatan kamera Nikon D5100, lensa Tamron 18-200, serta Samsung Galaxy GT-I9512 sebagai alat perekam.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s