Riset dan Observasi, Kunci Liputan Ekselen

Visual kuat, tajam menatap kamera, serta stok gambar nan amat kaya.

Feby Shindya beraksi bak reporter profesional saat meliput aksi unjuk rasa Hari Buruh di Bundaran Hotel Indonesia. Tatapan matanya firm ke depan, dengan kata-kata yang tertata rapi, dan mewawancarai narasumber tanpa gemetar.

Secara pascaproduksi, liputan ini pun kaya dengan visual-visual menawan. Dari beber spanduk di tengah air mancur, sampai aksi buruh berjoget di depan Pos Polisi Sudirman yang membatasi Jalan Sudirman dan Thamrin. Background spanduknya pun mencengangkan, ‘May Day, Negara Gagal Sehjahterakan Rakyat’.

Kalaupun ada kekurangannya, cukup lazim. Feby masih belum terhindar dari prinsip ‘avoid the list’ pada sebuah paket televisi. Dalam jurnalisme visual, sebaiknya saat seorang reporter menyebut, “Unjuk rasa buruh berlokasi di beberapa titik: Gelora Bung Karno, Istana Merdeka, dan Bundaran HI” maka pada saat yang sama visual menampilkan gambar selaras dengan narasi itu.

Sedikit kelemahan lain, saat Feby menyebut unjuk rasa buruh berlangsung di Istana Negara. Padahal, seperti juga beberapa reporter UMN salah kaprah dalam hal lokasi satu ini, Istana Negara ada di kawasan Harmoni-Veteran, sementara yang dekat Monas disebut Istana Merdeka.

But, overall, Feby mengerjakan semua dengan nyaris sempurna. Dari pra-produksi (riset dan observasi), produksi (reportase) serta pascaproduksi yang menghasilkan editing ciamik.

Pentingnya riset

Sebelum melakukan liputan tentang Hari Buruh Sedunia, Feby mencari berita-berita mengenai apa itu May Day, kapan dilaksanakannya, di mana tempat mereka berdemo, apa saja tuntutan mereka, dan sebagainya. “Tujuan saya mencari hal-hal tadi agar lebih mengetahui dan mengerti mengenai mayday. Selain itu tujuan lainnya agar saya mendapatkan bahan untuk live report ketika liputan,” katanya.

Begitu datang, Feby dan kawan-kawan mulai menelusuri kawasan Bundaran Hotel Indonesia, tempata para buruh dari masing-masing kubu sudah mulai berorasi dan membacakan tuntutan mereka. “Satu jam pertama saya masih belum melakukan liputan, karena masih bingung mencari narasumber untuk diwawancarai,” kisahnya. Sembari mencari narasumber, Feby sedikit demi sedikit memahami naskah yang akan dibacakan dan mencari gambar untuk bagian (insert visual) paket berita. “Setengah jam kemudian, saya mendapatkan narasumber setelah mencarinya berkeliling bundaran Hotel Indonesia,” ungkapnya. .

Feby bertutur, banyak kesan didapat setelah meliput May Day. “Saya menjadi sedikit mengerti mengenai demo buruh, mengapa mereka melakukan aksi itu,” paparmya. Saat liputan, Feby menggunakan kamera Cnon 60D, tripod, serta handphone sebagai alat untuk merekam suara agar lebih jelas.

Kendala yang dialami ketika liputan yaitu ketika harus berputas-putar mencari narasumber. “Karena ketika buruh yang saya mintai untuk diwawancara mengoper ke temannya, dan seterusnya dengan alasan mereka malu dan tidak tahu apa yang akan dibicarakan,” kenangnya.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s