Dari Cuaca Panas sampai Ungkapan Rasis

Blocking menawan, reporter bersemangat, dan paket pascaproduksi lengkap dengan newsticker.

Dengan bantuan Fernandi Terahadi sebagai news anchor di studio, liputan Katherin Augustina ini terasa lengkap. Betapa tidak, tayangan paket televisinya pun disertai newsticker atau running text berita terbaru.

Katherin tampil lugas, bersemangat, dengan blocking yang tepat di jantung kota Jakarta. Bertanya ke Didin dan Sugianto, perwakilan Front Pembela Honorer Indonesia, Katherin mendapat soundbyte amat nendang dari narasumbernya, “Harga mati diangkat jadi CPNS!”

Jawaban kedua narasumber itu belum diterimanya. Sebagai reporter, ia menyatakan tak puas dan kembali mencecar dengan pertanyaan balik, “Bagaimana jika pemerintah tak memenuhi tuntutan itu?

Kalaupun ada kekurangan, ada sedikit kesalahan mengganggu saat di voice over awal paket, Katherin menyebut Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Selatan. Kawasan Thamrin dan Sudirman sesungguhnya masuk area Jakarta Pusat.

Pengalaman berharga

Menurut Katherin, liputan ini memberinya banyak pengalaman berharga. “Saya dapat merasakan stand-up di lautan manusia dan liputan ini adalah liputan paling berkesan yang pernah saya alami,” katanya. Ia berpendapat, liputan seperti ini mengasah kemampuan jurnalis muda di lapangan dengan kondisi yang lebih menantang dari liputan-liputan sebelumnya.

Dalam ‘peperangan ini’, Katherin menggunakan camera DSLR Canon 600D (Lensa Wide) Full HD Recording dan Mic Kenwood. “Saya memutuskan untuk tidak menggunakan tripod karena posisi tanah yang miring dan ramainya orang lalu lalang,” jelasnya.

Bukan tanpa kendala. Menurutnya, cuaca panas, keramaian para pendemo, dan kebisingan sehingga kepala menjadi sakit dan susah untuk fokus menjadi beberapa masalah saat liputan. “Bahkan, selama stand-up saya harus berteriak karena saya khawatir suara kebisingan lebih besar daripada suara saya, meskipun saya sudah menggunakan mic.” paparnya. Belum lagi kisah saat ia ditabrak banyak orang ketika stand-up sedang berlangsung.

Berterusterang Katherin berucap, ia juga masih merasakan rasisme selama berada di lapangan. “Terbukti dari banyaknya orang-orang memanggil saya amoi dan bahkan ada polisi yang menyuruh saya untuk minggir dengan nada dan logat orang Chinese,” kisahnya.

Sungguh, sebuah kisah yang luar biasa. Teruslah bersemangat, Katherin!

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s