Memainkan Split antara Reporter dan Visual Liputan

Crisma Putri punya kelebihan dalam pascaproduksi karyanya. Memamerkan paduan antara penampilan stand-upper dan insert visual yang kaya.

Dibuka dengan judul besar paket, ‘May Day, Tuntutan Selalu Sama?’ penonton dimanjakan dengan visual yang kuat tentang aksi peserta unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia. Bendera-bendera yang berkibar tampak eyecatching, menyolok pemandangan, sebelum dilanjutkan wawancara Crisma dengan Harjo, seorang pemuda tanggung yang menjadi sample perwakilan buruh.

Kelemahan bukannya tak ada. Suara Crisma saat wawancara kerap tertelan keramaian/atmosfir lokasi liputan. Tapi kelebihan ditunjukkan Crisma saat disepertiga paket menampilkan perpaduan antara stand-upper dengan keramaian di sepanjang lokasi unjuk rasa dari Thamrin hingga Sudirman, Jakarta Pusat. Selara. Bicara sampah pun tampak visual sampah. Itulah sesungguhnya prinsip jurnalisme visual.

Proses liputan

Crisma merasa beruntung bisa ada di lokasi unjuk rasa peringatan Hari Buruh Internasional. “Biasanya saya hanya melihat beritanya di siaran televisi, namun pada tahun 2014 ini saya dapat terjun langsung melihat, merasakan, bahkan mencari fakta langsung di lapangan,” paparnya bangga.

Unjuk rasa baru akan dimulai sekitar pukul 9 pagi, namun Crisma dan kawan-kawan sudah tiba di bunderan Hotel Indonesia sekitar pukul 7 pagi. “Selain karena menghindari kepadatan transportasi umum, kami juga ingin melihat keadaan sekitar terlebih dahulu, karena memang ini merupakan pengalaman liputan demo pertama,” ungkapnya.

Menjelang siang, dari Bunderan HI, paramahasiswa ini mulai mengikuti arus massa yang berjalan menuju Istana Merdeka. “Sepanjang perjalanan saya mengabadikan setiap momen yang ada dengan kamera DSLR, handphone sebagai pembantu pengambilan suara, serta tripod, meski akhirnya tidak terpakai karena kebanyakan gambar yang diambil adalah gambar berjalan. Memang saya berniat untuk berjalan mengikuti masa yang ada,” jelasnya.

Pada saat take, kendala utama yang dihadapi adalah batere kamera yang mulai memberi peringatan akan segera habis, dan benar saja belum kelar take sudah habis. “Pada saat meminjam kamera milik teman pun kendalanya sama, karena memang kamera seharian dipakai,” tututnya. Akhirnya pada saat pengambilan tarakhir mempergunakan handphone.

Meski demikian banyak pelajaran berkesan yang dapat diambil. Selain belajar bagaimana liputan lapangan yang baik, Crisma juga mempelajari pentingnya memiliki perlengkapan double, seperti batere kamera kan memory card. “Agar pada proses pengambilan gambar tidak terhalangi batere dan memory,” pungkasnya.

 

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s