Suhardi, Politisi Profesor nan Rendah Hati

Selamat jalan, narasumber yang baik, yang bersiap-sedia untuk kepentingan publik.Tanpa pilih-pilih.

Kepergian Ketua Umum Partai Gerindra Profesor Suhardi meninggalkan banyak kenangan. Seorang pejabat, pembesar partai, yang tak pernah menunjukkan diri bahwa dia ‘orang besar’. Bersahaja, dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat dari semua kelompok.

Sebagai produser dialog Kompas TV, beberapa kali ‘sukses’ melibatkan Prof. Suhardi sebagai narasumber dialog Kompas Malam. Mengapa harus disebut’sukses’? Karena ada sebuah masa, di mana kami sangat susah mendatangkan narasumber dari pihak Partai Gerindra jelang pemilu legislatif atau pendukung Prabowo-Hatta sebelum pemilihan presiden.

Sepekan setelah pileg, 15 April 201, kami pernah ‘memaksa’ Suhardi naik tiga lantai ke studio Kompas TV Yogyakarta ag tk punya lift. Sedianya, beliau akan live untuk dialog Kompas Malam untuk tema “Sosok Cawapres, Haruskah dari Militer?” Di Green Studio Jakarta, duduk Achmad Basarah dari PDI Perjuangan dan Haris Azhar dari Kontras, Namun, setelah susah payah menaiki tangga, begitu duduk di studio dan siap on-air, ternyata ada kendala teknis. Visual dari Yogyakarta gagal muncul. Akhirnya kami pun hanya ‘live by phone’ dengan Suhardi, padahal beliau sudah duduk manis di kursi studio.

Lain waktu, 27 Juni, dua pekan jelang pencoblosan Pilpres. Saat itu heboh berita beredarnya surat pribadi Prabowo yang meminta dukungan ribuan guru di berbagai negeri. Sampai sore hari, belum ada narasumber dari tim sukses Prabowo-Hatta confirmed, hingga terbersit ide menelpon beliau. Prof. Suhardi menyatakan bersedia. “Tapi posisi saya masih di Jambi, nanti mendarat di Jakarta 19.00, WIB” ungkapnya.

Sempat panik karena ponselnya tak bisa dihubungi, dan ternyata pesawatnya delay, Suhardi sampai dengan selamat di studio sebelum show dimulai pukul 9 malam. Kami pun membahas topik “Surat Guru, Pelanggaran Pemilu” bersama guru aktivis Retno Listyarti dan anggota Bawaslu Nelson Simanjuntak.

Kamis (28/7) Suhardi menyelesaikan perjalanan hidupnya. Kanker paru-paru menjadi penyebab berpulangnya politisi 62 tahun yang dikenal sebagai Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada itu. Selamat jalan, politisi nan rendah hati.

This entry was posted in politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s