Liputan Even Besar, Bak Masuk Hutan Belantara

Meliput peristiwa besar seperti aksi demo seperti masuk dalam sebuah hutan belantara. Berbahagialah mereka yang bisa menemukan ‘tanaman’ yang khas di antara rerimbunan pohon di sana.

Meivi Isnihizah tepat sekali melampaui perumpamaan itu. Di antara semrawutnya aksi May Day, ia mengambil sebuah angle khas, yakni tuntutan para perempuan. Banyak pilihan untuk diangkat, saat di belakangnya tampak buruh, front pembela honorer dan lain-lain, Meivi memilih mewawancarai aktivis Komite Aksi Perempuan.

Maka, bertemulah ia dengan Estu Fanani, pegiat hak-hak perempuan yang menyampaikan catatan hitam perempuan. “Melalui catatan hitam ini kami ingin negara lebih menjamin hak-hak buruh perempuan. Tak ada perubahan berarti, dari tahun lalu,” kata Estu.

Kalaupun ada kekurangannya, Meivi kurang sabar memberi Chargen atau CG dalam live reportnya yang berdurasi lebih dari tiga menit. Wawancaranya juga bagus, tapi terkesan terlalu panjang. Beranilah memotong jawaban narasumber, sebelum omongannya terasa membosankan dan pemirsa yang akan memindah kanal televisi itu. Jangan terpesona pada narasumber, siapapun dia, sehingga reporter cenderung hanya mengangguk-angguk dan segan untuk memotongnya.

Proses liputan

Meivi mengaku awalnya sempat bingung ingin meliput apa dan memfokuskan ke mana di antara ribuan pengunjuk rasa. “Jadi saat itu saya berinisiatif untuk memperhatikan keadaan dan dari mana para pendemo ini berasal, sambil sesekali mengambil rekaman video dari kamera DSLR,” paparnya.

Setelah banyak memperhatikan, ia memutuskan untuk mengambil sisi dari pendemo perempuan tentang hak-hak perempuan yang belum terealisasikan. Ia pun mulai menyusun kata-kata apa yang ingin diucapkan saat melakukan stand-up. “Sangat banyak inspirasi di situ, karena pemimpin-pemimpin aksi demo memberikan kata-kata yang bagus untuk dirangkai menjadi stand up,” ungkapnya.

Usai stand-up, nyaris saja ia tertinggal meminta kepada salah satu mereka untuk bersedia diwawancara. Akhirnya salah satu dari mereka menunjuk ibu yang mengerti tentang catatan hitam tersebut, seorang komite aksi perempuan, namanya ibu Estu Fanani. “Sekitar lima menit saya berbincang sambil wawancara ditutup dengan closing. Wah di situ lega sekali rasanya semuanya sudah beres tinggal pengeditan,” urainya.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s