Akhirnya Teruji pada Liputan Aksi

Liputan ini dikemas cantik., karena mengambil angle sangat spesifik. Ada beberapa catatan penanda kekurangsempurnaan, tapi secara ide, amat ekselen.

Pada liputan kampanye yang menjadi tugas Ujian Tengah Semester, Anggie Cyndia mendapat kritik karena tak berada di kerumunan massa seperti kawan-kawannya. Tapi di May Day ini, sukses juga ia ‘mencemplungkan diri’ ke tengah unjuk rasa.

Lebih keren lagi, Anggie mengambil sebuah angle yang amat khusus. Memang begitulah sebaiknya seorang jurnalis bekerja. Di antara banyak pilihan sudut pandang di aksi nan amat semarak, seorang jurnalis bak ibu-ibu yang dibawa masuk ke retail Carrefour yang amat luas. Apa saja bisa dimasukkan ke dalam troli, kecuali jika dia sangat jeli, atau memang kuat dalam perencanaan sebelum berangkat ‘belanja’.

Anggie sangat kuat dalam pemilihan ‘isu’. Ia memilih soal lagu atau yel-yel yang dipakai para buruh dalam aksi mereka. Sangat pas dan kuat visualnya, meski Anggie kurang mengeksplorasi lebih dalam hal ini. Akan lebih ciamik jika ia mencoba menirukan salah satu yel-yel atau lagu para buruh itu –kalaupun ‘malu’, setidaknya ia minta kepada narasumber untuk melakukannya.

Kekurangsempurnaan kecil lain, saat Anggie sudah benar menyebut ‘Istana Merdeka’ tapi justru diralatnya menjadi ‘Istana Negara’. Sekali lagi, lokasi yang menjadi sasaran aksi para pengunjukrasa di simbol kekuasaan negara adalah Istana Merdeka yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Utara. Sementara Istana Negara, yang letaknya di kawasan Veteran-Juanda-Harmoni adalah ‘sisi belakang istana’ tempat presiden melantik pejabat negara dan jamuan makan kenegaraan dengan tamu istimewa.

Tapi, di luar kelemahan-kelemahan itu, belanjaan visual serta lagu latar yang dipakai sepanjang paket berita ini menjadikan karya Anggie Cyndia punya nilai plus tersendiri.

Kesan peliputan

Anggie yang ‘berperang’ bersenjatakan kamera Nikon D7000 dan Ponsel Xperia Go sebagai alat perekam suara mengaku proses liputan terlaksana dengan lancar. “Mudah untuk mendapatkan narasumber sesuai dengan tema/topik yang diambil,” ungkapnya.

Baru kali ini Anggie meliput kegiatan atau aksi di hari buruh. Jadi kesannya, “wah.” “Selain itu dengan meliput hari buruh, saya jadi mengetahui apa yang akan saya hadapi di dunia kerja nantinya,” ungkapnya.

Toh, ia bukannya tak mengalami kendala peliputan. “H-1 peliputan saya kena flu dan batuk. Saat on-cam, suara saya masih agak bindeng,” urainya. Selain mesti berpikir keras saat menentukan angle, Anggie tidak hanya mendapatkan kendala saat peliputan, tapi juga dalam proses editing alias pasca produksi. “Menjelang selesainya proses editing, software saya tidak merespon dan tiba-tiba mati Mau tidak mau saya harus melakukan proses editing kembali dari setengah proses yang terselamatkan,” kenangnya.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s