Kunci Berita ada Pada Endingnya

Kalimat penutup dalam sebuah berita adalah kekuatan utamanya. Pesan terakhir itulah yang menancap di pikiran audiens.

Thesar Metta Mulyana menyuguhkan banyak gambar menarik dari liputannya. Meski, ia pun tersandung kena istilah ‘The Devil is in The Details’. Hati-hatilah pada hal-hal kecil yang bisa merusak karya secara keseluruhan. Ingat di Indonesia ada peribahasa, ‘Karena nila setitik rusak susu sebelanga’. Ibarat kerikil, batu yang kecil itulah yang membuat kaki kita sakit.

Dalam paket liputan Thesar, kekeliruan ‘kerikil’ itu ada saat ia menyebut dan menulis Chargen ‘Hari Buruh Nasional’. May Day sejatinyamerupakan Hari Buruh Internasional alias Hari Buruh Sedunia, yang sempat diperingati pekerja Indonesia di era Bung Karno, tapi dilarang total di masa Suharto. Sejarah May Day, pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi pada 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat..

Akhirnya, Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada  1884, Federation of Organized Trades and Labor Unions,  yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanda 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Kerikil lain, saat Thesar menyebut jabatan tokoh yang berorasi sebagai ‘Ketua Koordinator Serikat Pekerja Nasional’. Hindari repetisi alias pengulangan. Ketua sudah cukup, karena maknanya sama dengan koordinator.

Tapi, sesungguhnya kekuatan Thesar ada pada saat ia memberikan kunci pada kalimat penutup paket beritanya. “Apakah buruh akan terus menjerit setiap tahunnya? Kita tunggu langkah konkret pemerintah pada tahun ini.”

Proses dan kesan liputan

Awalnya Thesar bingung akan mengambil angle apa pada liputan ini karena ia belum pernah ikut dalam aksi unjuk rasa para buruh. “Namun saya teringat karena setiap tahunnya tuntutan buruh belum banyak terpenuhi, maka saya mengambil angle soal tuntutan penghapusan outsourcing,” paparnya. Thesar mengaku, awalnya ada rasa gugup kembali muncul ketika akan melakukan stand-up serta mencari narasumber untuk diwawancarai.

Menurut Thesar, kesan yang ditemukan adalah mendapat pengalaman baru untuk melakukan peliputan aksi unjuk rasa, ternyata aksi unjuk rasa buruh tak seperti yang dibayangkan. “Ketika hendak berangkat saya membayangkan unjuk rasa yang akan berakhir anarkis dengan berdesak desakan bersama ribuan buruh, namun ternyata dugaan saya salah,” katanya. Aksi unjuk rasa berjalan dengan tertib, bahkan ia mendapat kenalan baru di kalangan buruh. “Selain itu, kesan lain yang saya dapatkan adalah menemukan arti kebersamaan bersama teman-teman, mulai dari berangkat hingga perjalanan pulang.,” urainya.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s