Bumper Program, Membawa Motto Kebesaran

Bumper dalam sebuah program berita memberikan sentuhan penarik bagi pemirsa. Tagline yang ada pun bisa menjadi brand atau motto untuk selalu dipegang para awak redaksinya.

Berbeda dengan karya mahasiswa lainnya, liputan Arnoldus Kristianus dibuka dengan ‘bumper’ nan menawan. Kemampuan menjadi bumper dapat menjadi nilai tambah, apalagi dalam penyusunan bumper memerlukan keahlian design, serta penataan audio visual.

Sayang, saat masuk ke on-cam Arnold di lokasi unjuk rasa, ada ketimpangan audio di situ. ‘Jumping’ audio terasa karea suara Arnold tampak kecil, beda dengan suara musik bumper yang dimainkannya sebagai pembuka dan penutup paket, serta natural sound (atmosfir) liputan pengunjuk rasa. Padahal, dengan tagline ‘Tajam, Akurat, Relevan, dan Terpercaya’, seharusnya bulletin G-News ini bisa menjadi daya tarik tersendiri agar pemirsa menyaksikan liputannya.

Gambar-gambar dan CG pun ciamik. Gelombang ratusan pengunjuk rasa menuju Bundaran HI, para buruh mengarak boneka gurita raksasa, dan yel-yel pendemo mengepal tangan berirama. Sayang, penataan audio yang kurang sempurna menjadi nilai minus karya ini.

Proses liputan

Arnold berkisah, berbeda dengan liputan yang dilakukan untuk tugas ujian tengah semester, peralatan yang digunakan dalam liputan kali ini lebih lengkap. Arnold membawa kamera HSR, kamera Nikon D5100, satu boomer, dan sebuah tripod

Tiba tengah hari, Arnold langsung mengambil gambar untuk footage suasana demo. “Tidak hanya demo tetapi mereka juga melakukan berbagai aksi teatrikal. Saya dan teman-teman ikut melakukan long march dari Bundaran HI hingga ke jalan Medan Merdeka. Suasananya meriah sekali,” papar Arnold.

Ia berkisah, dalam aksi long march ini suasana terasa begitu meriah. Sambil berjalan para orator menyampaikan aspirasi mereka seperti penghapusan sistem outsourcing, tolak kriminalisasi terhadap aktivis buruh serta peningkatan upah minimum regional. “Sampai di Jalan Medan Merdeka baru saya menyiapkan melakukan stand-up.  Kami berada di sana hingga sore hari, saat para buruh kembali melakukan aksi long march dari Jalan Medan Merdeka menuju Bundaran HI,” ungkapnya.

Liputan ini adalah pengalaman kedua Arnold dalam stand-up report.  Rasa nervous sempat terasa karena harus liputan di tengah keramaian, sehingga stand-up harus dilakukan beberapa kali. “Rasa nervous ini yang menjadi kendala saya saat liputan. Dari liputan ini saya belajar apa saja yang harus dilakukan saat di lapangan, karena apa yang saya rencanakan tidak sesuai dengan keadaan di lapangan,” urainya.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s