Menatap Mimpi jadi Jurnalis Televisi

Liputan Fellya Hartono nyaris sempurna. Runtut, audio visual keren, dan pasca produksi mendukung. Tinggal agar Fey fokus pada satu isu yang khas dan ‘menggoreng’-nya lebih serius di situ.

Fellya Hartono –akrab disapa Fey Zheng, mengemas video liputan May Daynya dengan ciamik. Selain stand-up di depan pengunjuk rasa nan semarak, video pendukung yang komplet, Fey juga sukses ‘mencolek’ seorang peserta aksi yang vokal bersuara tentang isu ini.

Ketika banyak yang berbicara tentang May Day sebagai hari libur nasional, sebaiknya Fey mencoba fokus ke penekanan lain. Apalagi, narasumbernya memberikan masukan cukup istimewa tentang isu perburuhan di sektor perbankan. James, karyawan Bank International Indonesia (harusnya CG tidak ditulis PT BII Tbk, karena James bukan mewakili perusahan. Ia merupakan wakil karyawan atau serikat pekerja) berceloteh agar, “Outsourcing di dunia perbankan dihapus, penggunaan tenaga asing dibatasi, serta hilangkan union busting atau pemberangusan kebebasan berserikat.”

Satu isu khas yakni saat James memaparkan, di dunia perbankan sedang trend adanya kegiatan ‘magang’. “Kami tak setuju dengan kebijakan itu. Kalau sudah layak diangkat, ya diangkat saja jadi karyawan tetap, jangan pakai istilah magang,” kata James, dengan menggarisbawahi tingginya resiko di sektor perbankan. Ini isu yang ‘seksi’ dan berbeda dengan peliput lain. Alangkah asyiknya jika Fey menyinggung SOT (sound of tape) James secara khusus dalam penutup laporannya. Misal dengan berkata, “Masalah dalam perburuhan ternyata juga menyentuh pekerjaan di kelas atas. Industri perbankan pun kini resah dengan istilah karyawan magang atau outsourcing. Mereka berharap, pemerintahan akan datang menaruh perhatian serius, agar sektor ekonomi dengan resiko tinggi ini tak main-main dalam penetapan status karyawan yang bekerja di dunia perbankan. Dari Bundarn Hotel Indonesia Fellya Hartono, Arum Kusuma Dewi melaporkan.”

Proses liputan

Fellya liputan dengan menggunakan kamera Sony HXR MC50P. Sedangan untuk merekam suara, Fey memakai recorder Sony yang disambungkan ke microphone agar mendapatkan suara yang lebih baik dan jelas. “Saya juga tidak menggunakan tripod, karena ingin belajar untuk memaksimalkan kemampuan handheld saya dalam menggunakan kamera,” kata Fey.

Menruutnya, liputan ini berbeda dengan liputan sebelumnya. Ia mengalami kesulitan pada proses standup. Lebih dari lima kali melakukan take hingga akhirnya berhasil melakukan standup yang cukup baik. “Meskipun menurut saya sendiri, hasil akhir dari standup saya masih kurang memuaskan, jika dibandingkan dengan tugas standup yang sebelumnya,” kata Fey mengenang liputan kampanye Partai Demokrat di Lapangan Blok S saat UTS.

Bagaimanpun, Fey mendapatkan kesan tersendiri. “Ini merupakan hari yang tidak terlupakan bagi saya. Di antara puluhan liputan yang sudah saya lakukan, liputan aksi Hari Buruh ini menjadi yang paling berkesan sejauh ini,” katanya.

Pada saat mengambil footage untuk melengkapi video, Fey bertemu dengan Selvy Sylvia reporter Kompas TV (Selvy Sylvia) yang pernah bertemu juga pada saat liputan kampanye Partai Demokrat yang lalu. “Rupanya, Ia juga masih mengingat saya. Setiap melihat para reporter yang sedang melakukan standup yang ada di lokasi tersebut, saya meyakinkan diri say, bahwa ‘I will be the one of them, someday’”.

Selain itu, Fey juga mengenali dua orang crew dari tim Kompas TV yang meliput Hari Buruh, yakni camerawoman Connie Pacifica yang juga alumni UMN, pada saat ia sedang mengambil gambar dengan menggunakan kamera professional. Orang yang kedua yaitu Maria Rossa yang juga senior di Jurnalistik UMN, Ia sedang melakukan magang di Kompas TV pada saat itu, dan membantu liputan Mayday. “Melihat kedua orang yang saya kenal itu, saya menjadi semakin termotivasi untuk cepat menyelesaikan kuliah saya, dan mengejar karir saya di dunia penyiaran,” paparnya.

Melihat reporter Kompas TV yang melakukan liputan di atas mobil, Fey tertarik untuk mencobanya. Pasti saya akan mendapatkan gambar yang bagus, jika saya mengambil entire shot dari atas mobil itu. Kemudian ia memberanikan diri untuk meminta izin kepada crew Kompas TV untuk menaiki mobil tersebut. “Awalnya, mereka ragu ketika melihat saya. Namun saya tetap percaya diri dan meyakinkan mereka bahwa saya bisa melakukannya,” tuturnya. Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari dua orang crew Kompas TV, Fey naik ke atap mobilnya melalui tangga yang sudah tersedia di samping mobil.

“Ini memang passion saya. Saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa passion itu bukan apa kata orang, tapi apa yg saya rasakan di hati. Jika saya melakukan sesuatu agar mendapat tepuk tangan dari orang lain, itu bukan passion,” tegasnya.

Semoga mimpimu terwujud, Fey. This is just the beginning!

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s