Suara Tenggelam, Masalah dalam Pasca Produksi

Ada dua masalah utama pada video Sofia Chandra ini. Audio yang ‘kelelep’ membuat pesan yang tersampaikan tak jelas.

Liputan Vie –sapaan akrabnya – ke lokasi unjuk rasa May Day sebenarnya cukup optimal. Ia tampil ceria, penuh semangat, dan tak canggung berpanas-panas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Vie mencari personalisasi buruh, menanyai Waryati kendala merayakan pelayanan kesehatan, serta bagaimana harapannya atas jaminan kesehatan yang mulai diterapkan pemerintah melalui Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ala BPJS. Angle yang sudah fokus, sebenarnya.

Tapi, ada ‘kecelakaan’ di sini. Di pasca produksi, setidaknya di laman youtube yang saya buka, ada ketimpangan suara di situ. Pernah suara Vie terdengar jelas, tapi giliran paket menayangkan sekuen liputan (suara atmosfir) jadi tenggelam. Sementara di kesempatan lain, justru suara asli suasana aksi terdengar, sementara suara Vie yang kelelep tak jelas ke mana.

Kesan peliputan

Vie meliput bersenjatakan kamera Digital Single Lens-Reflex (DSLR) Canon 600 D dengan iPod Touch 4 sebagai alat perekam suara. “Saya terkesima melihat massa pengunjuk rasa berjalan dengan tertib ambil melambaikan bendera atau spanduk,” katanya. Ia berujar, mengalami kesulitan untuk wawancara, karena rata-rata buruh tidak mau d wawancarai. Setelah beberapa kali ditolak, akhirnya Vie mencoba berjalan ke Bundaran HI. “Kali ini saya beruntung, karena seorang ibu yang saya cegat ternyata adalah pimpinan divisi wanita dari suatu kelompok buruh,” ungkapnya.

“Saat pertama mendapat topik liputan dari Pak Jojo, saya sangat kaget dan berpikir ‘Pak Jojo ga salah? Demo buruh dari satu pabrik aja sudah chaos, apalagi demo buruh dari pelbagai pabrik dan semuanya berkumpul di satu tempat?’” pikir Vie dan teman-temannya.

Vie mengaku galau, takut bakal ada kejadian tak diinginkan saat liputan. Apalagi, ia memiliki riwayat penyakit darah rendah dan asma, takut kambuh karena massa sangat ramai dan banyak.  “Bahkan, sampai H-1 liputan pun saya masih galau dan takut, hahaha,” kenangnya.

Ternyata, kata Vie, melaksanakan liputan, rasanya tegang tapi seru! Serunya berbaur di tengah massa yang sangat ramai, tapi tetap deg-degan. “Saya sempat pusing dan sesak napas karena terlalu banyak orang. Tapi kata-kata papa selalu terdengar ‘Aayo semangat, Ai (panggilan saya di rumah) pasti bisa,” ceritanya. Vie teringat, ayahnya memotivasinya, “Jangan takut, jangan galau, masa calon reporter Metro Xinwen cepet K.O?” Sementara ucapan ibunya pun selalu terngiang, “Cewek zaman sekarang harus kuat fisik dan mental. Jangan payah!” Itulah sepasang kalimat yang menjadi penyemangat dan pembuang rasa takut Vie saat liputan.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s