Mewawancarai Tokoh yang Sama, Bagaimana Menjadi Berbeda

Dalam sebuah even, tak jarang beberapa media ‘bergantian’ mewawancarai narasumber yang sama. Bagaimana menjadi berbeda, itulah tantangan seorang reporter untuk menunjukkan ‘diferensiasi’-nya.

Tak beda dengan liputan Arum Kusuma, pada unjuk rasa kali ini, Virny Apriliyanty ‘menggaet’ Nining Elitos sebagai narasumber untuk diwawancarai ‘on the spot’. Di dunia perburuhan, Ketua Umum Konfederasi KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia), Nining Elitos termasuk ‘nama besar’. Sisi prominence-nya menarik, apalagi jika dikaitkan sisi gendernya. Di Indonesia, masih langka seorang perempuan menjadi sosok aktivis garis keras. Karena itu, mewawancarai pengunjukrasa wanita yang menjadi singa orasi macam Dita Indah Sari, Yeni Rosa Damayanti, Rieke Dyah Pitaloka, atau Nining ini, menjadikan sebuah liputan menjadi punya nilai tambah tersendiri.

Menjadi soal yakni bagaimana seorang reporter bisa menyampaikan pertanyaan, dan tampil berbeda dibandingkan jurnalis lain yang juga memutuskan seorang narasumber serupa sebagai tokoh liputan. Cobalah berpikir untuk menjadi berbeda, dengan pertanyaan lugas, tajam, yang tak disampaikan oleh reporter lain. Tak kalah penting adalah unsur riset, untuk mengetahui siapa narasumber yang akan kita tampilkan sebagai ‘tokoh’.

Bagaimana jika menemukan tokohnya ‘tembak di tempat’ alias tak ada perencanaan akan mewawancarai si A, dan baru menyadari pesonanya saat bertemu di lapangan? Itulah pentingnya pre-interview, alias wawancara sebelum direkam. Dalam perkenalan singkat itu, kita bisa tahu siapa nama, apa organisasinya, serta hal-hal lain yang tak harus ditanyakan di layar secara ‘on the record’. Alih-alih bertanya, “Selamat siang, Ibu namanya siapa?” dan “KASBI itu apa sih, Bu?” Nining bisa bertanya lebih dulu, dan saat on-air ia langsung berkata, “Di samping saya ada Nining Elitos, seorang tokoh perburuhan, yang juga Ketua Umum KASBI. KASBI merupakan salah satu organisasi buruh yang mengklaim memiki 150 ribu anggota da 10 ribu di antaranya terjun dalam aksi May Day di Jakarta. Selengkapnya, kita akan tanyakan kepada Mbak Nining, apa yang menjadi tuntutan buruh pada 2014 saat ini, saat 1 Mei sudah dinyatakan sebagai hari libur nasional…”

Kali kedua liputan besar

Virny berkisah, sebenarnya liputan buruh ini lebih santai daripada liputan kampanye yang menjadi penilaian Ujian Tengah Semester (UTS). Lokasi liputan Ujian Akhir Semester (UAS) yaitu Bundaran Hotel Indonesia juga lebih familiar baginya dibandingkan lokasi Lokasi liputan UTS di Gelora Bung Karno. “Tapi hasil liputan UAS ini saya rasa jauh lebih mengecewakan dibandingkan hasil UTS,” bandingnya.

Ia memaparkan, dari liputan ini banyak belajar mengenai bagaimana harusnya membriefing dulu narasumber agar bisa mendapat angle yang bagus. KAmat disayangkan jika kita mendapat narasumber yang berkualitas, namun pengambilan gambarnya buruk, seperti yang saya alami,” urai Virny yang bersenjatakan kamera DSLR EOS 600D.

 

Kesan lain bagi Virny, itu terasa bagaimana sulitnya meliput langsung di bawah terik matahari yang menyengat. “Sampai membuat kulit saya belang,” candanya. Yang pasti, pikirannya terbuka, dan baru merasakan kalau parah buruh saat melakukan demonstrasi ternyata sangat tenang, tidak seperti gambaran yang ada di pikirannya selama ini. “Para buruh malah seperti memanfaatkan momen ini untuk berkumpul dan berekreasi dengan buruh lainnya,” simpul Virny.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s