Pilih Satu Angle, dan ‘Bermainlah’ di Situ

Banyak pilihan sudut pandang dalam atau angle dalam sebuah liputan acara besar (big event). Di situlah seorang reporter dituntut jeli memilih salah satu angle terbaik.

Masuk ke sebuah acara besar yang diikuti ribuan orang seperti aksi May Day atau Hari Buruh, ibarat masuk ke pasar swalayan superstore, dengan pilihan barang belanjaan bisa diambil. Namanya juga retail, barang apa saja bisa ada di sana. Kalau salah fokus, bisa-bisa troli bawaan kita akan terisi barang-barang yang tak penting. Atau, karena memang sejak masuk superstore itu kita memang tak membawa catatan khusus mengenai barang belanjaan yang akan dibeli?

Begitu pun saat seorang reporter ‘nyemplung’ di kawasan Bundaran Hotel Indoensia tempat berlangsungnya ‘pesta buruh’ setahun sekali. Mau belanja apa? Mau bikin masakan apa? Mau bahan apa yang paling menarik diproses di dapur nantinya? Seharusnya, ia memilih salah satu, dan fokus ‘bermain’ di situ.

Sebenarnya, Mira Elsya Nadia bisa memilih satu saja angle terbaik. Misalkan, saat ia menyorot bahwa aksi demo ini tak hanya diikuti buruh, tapi juga buruh. Bayangkan saja, selain dapat visual unjuk rasa keren –poster bertuliskan ‘Angkat Kami Jadi PNS’, ia juga punya SOT (sound of tape, kutipan pernyataan) maha dahsyat dari guru peserta aksi, “Kita nggak usah takut mati kawan-kawan. Kita sudah sepakat kita akan melumpuhkan Jakarta pada hari ini, kawan-kawan. Sepakat?”

Bayangkan seorang guru, pendidik beraksi dengan kalimat, “Kita sudah lelah, kawan-kawan. Ini adalah perjuangan terakhir. Kita adalah mantan-mantan mahasiswa, orang-orang intelektual, kita bisa ulang kejadian 1998…” Selanjutnya, Mira baiknya bermain saja di isu itu. Tarik seorang guru, personalisasi, minta dia cerita, per bulan dapat berapa rupiah, seperti apa perjuangannya sebagai guru honorer, apa pekerjaan sampingannya, lalu bagaimana upayanya selama ini untuk mencoba ‘naik status’ menjadi pegawai negeri.

Kesan liputan

Mira berkisah, ia banyak mendapat kesan liputan acara seakbar aksi May Day. “Biasanya hanya melihatnya dari tv saja, tapi kali ini langsung berada di lapangan untuk melihat secara langsung euphorianya, bertemu langsung dengan buruh-buruh yang antusias menyampaikan tuntutannya. Apalagi saya stand-up di tengah keramaian,” ungkapnya.

Menggunakan kamera SLR 60D, tripot, dan mic, Mira mengaku terkendala suasana bising saat buruh semakin ramai berdatangan. “Di luar dugaan, hasil stand-up, suara di microphone amat kecil, kalah dominan dengan suara keadaan di sana,” paparnya. Ia mencoba memperbaiki suara itu dengan dubbing (sulih suara) saat sekuen live di air mancur Bundaran HI.

Mira juga mengaku kurang pas pada bagian closing liputan. Karena telat merekam, beberapa kalimatnya tak masuk dalam audio liputan. “Jadinya, terlihat aneh di bagian belakangnya dan masih terlihat sangat tajam saat pindah video. I’ll do better next time,” janjinya.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s