Memaksimalkan ‘Atmosfir’ dalam Liputan Live

Paket liputan live Rahmi Febriani keren. Ia ‘bermain-main’ di antara natural sound yang membuat unjuk rasa serasa ada di depan hidung pemirsa.

Kekuatan liputan live media elektronik di acara besar yakni atmosfer atau natural sound yang ada di even itu, sehingga menjadi sebuah pesona tersendiri. Kita seolah mengajak pemirsa melayang, dari ruang tamu atau kamar tidur tempat televisinya berada, menuju ke lokasi keramaian tempat unjuk rasa berlangsung.

Meski sempat terpontang-panting karena di beberapa scene natural sound itu lebih kencang dari liputannya, tapi hadirnya potongan lagu Iwan Fals, orasi pendemo, serta riuh peserta aksi, menjadi kelebihan khusus liputan ini.

Yang disayangkan memang, Ami tak ‘menculik’ narasumber atau tokoh di lokasi unjuk rasa, untuk coba diwawancarainya di Bundaran Hotel Indonesia, salah satu spot utama unjuk rasa buruh di Jakarta. Alhasil, paket yang dihasilkannya, dalam durasi dua menit 3 detik, dapat dibilang terlalu pendek untuk sebuah paket liputan live.

Proses liputan

Ami berkisah, betapa ia menempuh perjalanan panjang untuk menghasilkan liputan ini. Jam 6 pagi sudah berada di Stasiun Sudimara yang akan mengantarkannya hingga jantung ibukota. “Kami senang karena demo berlangsung dengan tertib. Saya melakukan stand up tepat di Bundaran HI dan tidak merasa ada kesulitan sama sekali,” katanya. Ami mengakui, background/natural sound didapatkannya dengan sempurna, backsoundnya pun juga terdengar jelas. “Namun sesekali suara saya tidak terdengar karena suara teriakan dari para buruh mengalahkan suara saya,” kisahnya.

Dari jam 8-an, Ami dan teman-teman berkeliling mencari spot untuk melakukan stand up dan belanja gambar. “Kali ini saya tidak kehilangan momen sama sekali karena saya membawa camera sendiri, tidak seperti liputan kampanye lalu,” jelasnya. Ia mengaku banyak belajar dari peristiwa saat meliput kampanye PKPI untuk tugas Ujian Tengah Semester.

“Merasa belanja gambar dan stand up sudah cukup, barulah saya mau meminjamkan camera saya untuk teman-teman yang tidak membawa camera dan hanya mengandalkan teman,” paparnya.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s