Pentingnya Kesetaraan Reporter dan Narasumber

Dalam liputan, reporter dan narasumber seyogyanya tidak menyebut narasumber dengan sebutan “bapak”, “ibu”, “kakak”, “mas”, atau atribusi apapun yang membuat kesan tidak sejajar.

Masukan dalam liputan Stevanie Adeline ini, saat ia menyebut, “Kampanye Partai Hati Nurani Rakyat dihadiri oleh Bapak Wiranto dan Bapak Hary Tanoesoedibjo…” Juga unik saat ia ‘selip’ menyebut ejaan Hary Tanoe yang benar.

Dalam jurnalistik, posisi narasumber dan koresponden harus sejajar. Tak baik bila reporter menyebut narasumbernya dengan atribusi yang mengesankan narasumber lebih tua atau terhormat. Karena bagaimanapun, pemirsa televisi beragam posisinya. Ada pula, mungkin, pemirsa yang usianya lebih tua dari Wiranto dan Hary Tanoe menyaksikan tayangan itu. Jadi, tak perlu menyapa dengan sebutan bapak.

Selebihnya, liputan Stevanie cukup bagus, meski secara insert visual kurang menarik apa yang ditonjolkannya. Terlalu terpaku pada wajahnya, dan kurang menampilkann gambaran suasana, kecuali saat wawancara dengan Jonay dan Rani yang membawa anak mereka mengikuti kampanye Partai Hanura.

Kisah liputan

Stevanie berkisah, menyesuaikan waktu dengan teman-teman untuk liputan bersama sangat sulit, dikarenakan berbeda kelas. “Akhirnya untuk pertama kali kami meluangkan waktu untuk pergi liputan bersama-sama ke Pasar Anyar, Kabupaten Kota Tangerang untuk meliput partai Golkar yang kami cari jadwal kampanyenya dari internet,” kisahnya. Ketika sampai tujuan, ternyata tidak ada massa yang datang, lapangannya sepi, dan tak ada kampanye seperti yang dijadwalkan.

Kedua kalinya, Stevanie meliput Partai Nasdem di lapangan Sunburst BSD bersama teman-teman. “Tak lama kami meliput, hujan pun turun. Kami hanya mendapat dua kali take, dan itupun tidak bagus,” paparnya.

Tak puas, hari terakhir kampanye, ia meliput Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di Stadion Gelora Bung Karno. “Tiba pukul 11, kampanye dimulai pukul 13. Kami duduk dan mengambil gambar sekitar sambil menunggu dibukanya pintu masuk,” jelasnya. Tepat pukul 13.00, banyak simpatisan datang menggunakan bus secara rombongan dan memakai kaos Hanura. Kira-kira jumlah bus itu ada 50-an. “Saya segera mengambil video itu,” ungkapya.

Stevanie menuturkan, di dalam Stadion Gelora Bung Karno, antusias dari masyarakat terasa sekali. Mereka menyanyikan lagu bersama-sama dengan artis yang diundang dalam kampanye itu, yaitu Ayu Tingting, Nazar dan juga beberapa dari Indonesian Idol. Sekitar pukul 15.30, Bapak Wiranto dan Bapak Hary Tanoe datang menggunakan becak dengan membonceng istri dari masing-masing. GBK pun semakin semangat dan berteriak dengan kedatangan calon presiden tersebut. Mereka pun berorasi tentang visi misi buat Indonesia kedepan.

Pukul 18, ia dan teman-teman baru pulang dari Senayan, dan sampai rumah pukul delapan malam. “Rasanya lelah sekali, kaki pun pegal-pegal dan badan pun terasa capek.Tapi di sisi lain, saya menambah pengalaman mengesankan menjadi jurnalis,” pungkasnya.

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s