Liputan Kampanye dengan ‘Prominance’ Terbaik

Salah satu unsur nilai berita (news value) adalah seberapa terkenal tokoh yang ada dalam berita itu. Katherin Augustina memilih narasumber tepat saat ia mewawancarai Taufik Basari. Kelemahannya: kurang berani memotong jawaban narasumber.

Memilih narasumber untuk masuk dalam sekuen wawancara pada Live on Tape liputan kampanye bukanlah hal mudah. Beberapa karya yang masuk, mahasiswa mewawancarai warga simpatisan peserta kampanye, atau caleg partai itu. Tapi, di antara banyak reportase, liputan Katherin Augustina mendapat poin terbaik.

Mengikuti kampanye Partai Nasdem di Lapangan Pulomas, Jakarta Timur, Katherin mewawancarai Taufik Basari, salah seorang calon legislatif Partai Nasdem untuk DPR RI. Taufik dikenal sebagai seorang pengacara, dan aktivis anti korupsi. Namanya masuk sebagai salah seorang ‘caleg bersih’ yang direkomendasikan Majalah Tempo pada edisi khusus jelang pemilu legislatif 9 April lalu.

Maka, tak heran, jawaban suami Fessy Alwi, mantan news presenter Metro TV yang kini beralih profesi sebagai notaries, itu pun tampak amat berisi. Topik yang disodorkan Katherin pun cukup bermutu, bagaimana Pemilu 2014 menghadapi ancaman membengkaknya kaum golput, serta apa langkah Partai Nasdem mengantisipasi tantangan itu, khususnya pada kalangan pemilih pemula.

“Kami akui anak muda saat ini skeptis melihat partai politik, sehingga mereka tak bergairah melihat pemilihan umum,” kata Taufik. Ia menjelaskan, ketika banyak masyarakat tak percaya pada sistem, maka sistem itu akan rapuh. “Pelan-pelan kita harus perbaiki sistem itu. Janganlah terus mengutuki kegelapan, tapi marilah nyalakan lilin agar menjadi terang,” jelas lulusan Northwestern University, Chicago ini.

Liputan yang amat cemerlang ini memiliki kelemahan karena durasi yang terlalu panjang. Antara lain, Katherin masih terlihat kaku dan kurang luwes saat mengajukan pertanyaan atau berinteraksi dengan narasumber. Jika sedikit menambah kepercayaan diri, Katherin akan berani memotong jawaban yang dirasa terlalu panjang. Karena, penguasa microphone dalam liputan tetaplah reporter, bukan narasumber.

Proses liputan

Pada kampanye 16 Maret, Katherin hadir terlalu pagi. Pukul 10 ia sudah berada di lapangan pacuan kuda Pulomas, Jakarta Timur. “ Yang saya temukan hanyalah sebuah lapangan kosong dengan sebuah panggung bertuliskan Partai Nasdem. Setelah bertanya, ternyata kampanye baru akan dimulai jam dua siang,” kisahnya. Selama menunggu, Katherin memperhatikan beberapa juru kamera mengambil gambar sehingga ia pun melakukan hal yang sama. “Ada reporter dari Metro TV dan Net TV. Saya sangat minder, tetapi saya memperhatikan bagaimana mereka mengambil gambar,” paparnya.

Setelah menunggu hingga hampir 4 jam, akhirnya lapangan yang tadinya kosong mulai dipenuhi oleh simpatisan Partai Nasdem. Warga datang berbondong-bondong dengan munggunakan metro mini. Metro TV memulai stand up-nya dengan mewawancarai Caleg DPR RI no 1, yaitu Taufik Basari. “Timbul keinginan saya untuk ikut mewawancarai Bapak Taufik. Tetapi, karena kampanye akan segera dimulai, beliau meminta kami untuk menunggunya dan menunggu simpatisan agar lebih ramai,” urainya.

Usaha yang tak sia-sia, karena kemudian Topas –sapaan Taufik Basari- meminta para simpatisan tidak pulang dulu, dan menjadi latar saat Katherin mewawancarainya. Katherin mengaku sangat gugup karena harus melakukan stand up bersama seorang caleg dan berharap tidak melakukan kesalahan. Ia berpikir, bila terjadi kesalahan dan diulang, pasti akan malu sekali karena saya melakukan stand up di sebelah seorang caleg, di hadapan kru Metro TV, dan banyak orang. “Tetapi, ternyata saya cukup lancar meskipun tidak sempurna dan saya sangat lega karena saya melakukan stand up ini hanya sekali dan tidak perlu diulang.,” ungkapnya.

Katherin bekerja dengan peralatan Camera Canon EOS 600D (EF-S 18-55 mm lens), tripod, serta voice recorder. “Saya mengedit menggunakan Adobe Premiere Pro CS6 dari awal hingga akhir. Saya berusaha menggunakan standar broadcasting dan membuatnya seperti berita seperti di televisi,” katanya. Katherin menekankan, dalam pengerjaan editing, kendala utamanya adalah menyatukan suara yang berbeda dari video dengan voice recorder karena harus pas dan tidak boleh ada kesalahan sama sekali.

What an effort, Katherin!

 

 

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s