Kurang Kaya Gambar, Felix…

Felix menceritakan suasana di sekitar ring satu kampanye Partai Hanura. Kurang memuaskan mata pemirsa dengan visual keren.

Di pintu masuk Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Felix Anthoni berdiri. Ia berada di tengah lalu-lalang, simpatisan Partai Hati Nurani Rakyat yang menuju arena kampanye partai pimpinan Wiranto itu.

Kurangnya, Felix kurang pas memanjakan pemirsa dengan gambar yang pas, sesuai apa yang dipaksakan. Satu menit dua puluh detik, ia memaksa pemirsa memandang wajahnya yang berstand-up ganteng dengan jas almamater. Termasuk saat mengatakan, “Polisi melakukan penjagaan untuk mencegah terjadi hal-hal yang tak diinginkan selama kampanye berlangsung”, “Kaos dan warna-warni serba oranye tampak saat memasuki stadion ini”, “Terlihat beberapa barongsai yang ikut memeriahkan acara kampanye terbuka”, “Di depan pintu stadion juga tersedia sajian kuliner terdiri 500 warteg beken dan 20 ribu bakso lezat dari parade tukang bakso”. Sayang sekali, cerita-cerita itu tak dilengkapi dengan visual yang selaras.

Jurnalistik televisi memberikan beda dengan keunggulan visual yang ditampilkan. Kehadiran reporter di lokasi liputan memberi nilai plus, tapi kemunculan wajahnya saja tak cukup. Mata dan telinga publik diwakili oleh kamera yang menjelajah semua sudut arena dan membawanya ke ruang tamu pemirsa.

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s