Atmosfer Mewah, Tapi Miskin Cerita

Dari lokasi kampanye di Serpong, Robi Gunawan memotret dari dekat lokasi kampanye Partai Nasdem. Sayang, keeping-keping puzzle itu tak tertata dengan baik.

Ada banyak peristiwa terjadi di sekitar kita. Ada banyak gambar tersaji di depan mata yang terekam kamera. Ada banyak cerita terhampar di depan panca indera. Tapi, dengan waktu tayang yang amat terbatas untuk sebuah liputan televisi, pilihlah cerita yang menarik, fokuslah pada satu isu, dan maksimalkan untuk mengeksplorasinya menjadi cerita yang keren.

Liputan Robi cukup ‘mewah’ dari sisi visual. Ada suara atmosfer orator kampanye, ada lagu yang dibawakan petinggi partai, ada wawancara yang berapi-api dari caleg Partai Nasdem. Tapi, karena terlalu banyaknya sudut pandang atau ‘angle’ di sana, ia malah jadi tak bisa merangkai momen-momen indah itu menjadi sebuah pilihan cerita.

Dari gambar dan susunan visual yang disajikannya, pilihan-pilihan cerita itu misalnya memanjangkan orasi caleg di atas panggung dan massa yang menyemut di lapangan. Sayang, orasi nan bersemangat, terpotong kasar dengan lagu kebangsaan yang dinyanyikan pejabat. Lalu loncat ke Robi, yang pada stand-up awalnya keliru menyebut ‘Partai Nasional Demokrasi’. Untuk ormas, kepanjangannya adalah ‘Nasional Demokrat’, tapi untuk partai, namanya ya Partai Nasdem, bukan singkatan.

Lalu Robi beralih ke isu pelibatan anak dalam kampanye. Sayang, tak optimal bicara di situ, sudah beralih ke suasana kampanye yang sempat diguyur hujan –tak ada gambarnya pula. Belum puas bicara hujan, ia menemui Wawan Iriawan. Caleg Partai Nasdem ini sangat bersemangat menjelaskan bagaimana sebagai partai baru ia mencoba meraih suara massa. Sebenarnya topik inilah yang bisa ‘dijual’ dengan optimal, bagaimana partai baru, caleg baru, tanpa ada foto, mensosialisasikan dirinya.

Berubah di lapangan

Robi berkisah, proses liputan sudah dirancang jauh -jauh hari, dengan topik pelibatan anak dalam kampanye. Namun ketika sampai lapangan semua rencana berubah, karena hanya ada beberapa orang tua yang membawa anaknya. “Realita tak sesuai rencana,” katanya.

Alat yang digunakannya adalah kamera DSLR, Tripod, dan microphone. “Namun berhubung kamera yang dibawa hanya satu, akibatnya kami kekurangan stock shot,” jelasnya. Karena kamera utama disiapkan standby untuk proses pengambilan stand up, akhirnya Robi memutuskan untuk merekam beberapa video dengan menggunakan kamera handpone.

 

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s