Jangan Lupakan Sisi “Penampilan” sebagai Reporter

Dalam liputan langsung, persiapan memegang peranan penting. Baik riset topik, penguasaan dan kepercayaan diri, maupun penampilan fisik seperti wardrobe (tata artistik busana) yang dikenakan.

Ini salah satu liputan kampanye mahasiswa saya yang mengagumkan. Mira Elsya Nadia mempersiapkan diri meliput rapat akbar Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, dengan baik. Ada beberapa poin plus yang saya catat, di antaranya:

–       Kepercayaan diri. Sekilas nyaris kita tak bisa membedakan, ini mahasiswa yang sedang latihan praktik kuliah, atau beneran reporter televisi professional. Mira membawakannya dengan cool, percaya diri, dan tajam dalam menatap kamera. Kata-katanya pun terstruktur rapi, nyaris tanpa grogi. Pengucapan penggalan katanya bagus, tak ada nafas yang tersengal-sengal, misalnya. Entah berapa kali Mira melakukan take.

–       Penguasaan materi. Kekuatannya terlihat saat membawakan topik ‘Pelibatan anak dalam kampanye’. Mira memahami materi ini, serta pas saat memilih narasumber bapak-ibu dan seorang anak yang mengikuti kampanye Hanura. Pertanyaan-pertanyaannya pun terarah.

–       Penampilan fisik. Dalam liputan televisi, otak memang lebih penting daripada kecantikan atau ketampanan reporter. Tapi, jangan lupakan juga bagaimana ia ‘mengemas’ dirinya. Pakaian yang dikenakan, dandanan, gaya rambut, atau peralatan yang dipakai. Mira mengambil banyak poin plus dalam faktor ini.

Tapi, untuk pengembangan diri, baiklah saya sampaikan beberapa kelemahan karya Mira ini:

–       Kesetaraan jurnalis dan narasumber. Jangan menyebut narasumber dengan sebutan ‘Pak’, seperti saat Mira menyebut nama Ketua Umum Hanura ‘Pak Wiranto’…

–       Bagaimana menyapa narasumber. Liputan televisi dibatasi soal durasi. Jadi, gunakanlah waktu seefisien mungkin. Jadi, alih-alih bertanya siapa nama bapak dan ibu yang diwawancarainya saat live, sebaiknya ia sudah mencatat nama mereka. Jadi Mira tinggal mengucapkan, “Baiklah saya sudah bersama Bapak Tura dan Ibu Ninik..”

–       Sisanya, misal potongan yang terlalu kasar saat memindahkan scene Mira stand-up dan wawancara narasumber, bisa diperbaiki. Demikian pula insert visual yang terasa kurang, dan seharusnya bisa disertakan di tengah-tengah wawancaranya dengan narasumber.

Well done, Mira, ditunggu kiprahnya di dunia broadcasting profesional…

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s