Pasal Satu Stand Up Liputan Live: Kuasai Diri

Control yourself, kendalikan diri, kendalikan kata-kata. Itu kunci tenang dalam membawakan liputan langsung di depan kamera.

Secara konten, isi liputan Johanes Hutabarat, tak beda dengan karya Cosmas Bayu. Dalam acara besar yang seharusnya menampilkan crowded dan keriuhan, Johanes tidak menampilkan ‘daging’ liputan itu.

Bisa jadi, dalam liputan kampanye PKS di Stadion GBK ini, Johanes berpikir, karena kawan-kawan yang lain sudah mengambil ramainya kampanye di dalam stadion, maka ia mengambil sisi berbeda dari para pedagang di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Apa benar para pengasong itu sejatinya tak boleh masuk stadion?

Sayang, dalam pemilihan liputan side bar ini, Johanes justru kehilangan nyawa utamanya. Sama sekali tak tampak keramaian yang bisa menjadi ‘jualan’ ada acara besar di mana. Belanjaan gambar kampanye sebuah partai besar pun tak ada. Otomatis, challenge berhadapan dengan massa pun tak dilakukan di sini.

Masalah kedua, Johanes kehilangan kontrol dirinya. Ketenangannya kalah dengan kegugupan. Ia tak melaporkan peristiwa kebakaran di mana api menyala-nyala dengan hebat. Ia tak berada di lokasi di mana terjadi kerusuhan antar pendukung sepakbola dengan aksi saling lempar kayu. Namun, kegugupannya mendera saat mewawancarai ‘hanya’ seorang pengasong makanan. Seharusnya, Johanes lebih tenang. Seharusnya, ia bisa mengendalikan diri. Apalagi dalam proses seperti ini, take wawancara toh tak dilakukan hanya sekali.

Mengaku grogi

Diakui Johanes, cukup sulit baginya melakukan liputan kampanye. “Dalam peliputan kali ini saya tidak hanya sekadar melakukan informasi, tapi juga melakukan wawancara dan direkam secara visual. Melakukan stand-up untuk pertama kali cukup sulit bagi saya pribadi,” paparnya.

Johanes menyatakan,perasaan grogi dirasakan, karena dalam peliputan inilah pertama kalinya ia melakukan liputan on-cam. “Saya sampai mengulang beberapa kali untuk  melakukan pembukaan. Saya berbicara tergagap-gagap, Nampak kurang persiapan mengenai apa yang akan dikatakan,” ungkapnya jujur.

Baginya, gangguan utama adalah saat apa yang dilakukannya menarik perhatian beberapa orang. “Tatapan-tapan orang-orang yang berseliweran cukup mengganggu saya. Hal tersebut menambah grogi dan juga membuat lupa apa yang hendak saya katakan,” kisah Johanes.

Kendala lain adalah mengenai narasumber, dalam hal ini mengambil angle pedagang. “Saya bingung memilih pedagang yang saya ingin wawancara. Beberapa dari mereka tidak mau diwawancarai, menurut saya karena alasan yang kurang jelas,” katanya. Selama peliputan, Johanes mengombinasikan rekaman dengan kamera  DSLR Nikon dan telepon seluler Nokia untuk back-up audio.

Berlatihlah menangkap angle lebih besar dan menantang, Jo!

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s