Aih, Datar Sekali Ricky…

Live report Ricky terlalu datar. Ibarat foto diri, ia tampil ‘pas foto’ terlalu kaku. Padahal, seharusnya bisa lebih kreatif

Tak banyak yang bisa dikomentari dari penampilan Ricky Dermawan saat mencoba melakukan live report dari Stadion Utama Gelora Bung Karno, tempat ia meliput kampanye Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Penampilan Ricky amat datar, flat. Tak ada wawancara dengan peserta kampanye. Tak ada pula belanjaan visual menarik, selain memaksakan pemirsa menonton wajahnya selama 42 sekon. Ricky menyebut ‘daftar artis’ pengisi acara, tapi tak sekalipun ia menampilkan wajah mereka, sekalipun berupa tampilan foto misalnya.

Liputan live harusnya kreatif, mengeksplorasi yang ada, dan bisa ‘out of the box’ mengambil sisi yang tak biasa. Penampilan harus bersemangat, serta berisi informasi yang jelas, apa yang akan disampaikan atau menjadi ‘pesan utama’ dari liputan itu.

Sulit bicara panjang

Sebenarnya, Ricky dua kali meliput kampanye. “Pertama pada 3 April, kampanye Partai Amanat Nasional di Istora Senayan,” kisahnya. Membawa kamera DSLR, tripod dan mikrofon, berenam bersama kawan-kawannya, Ricky berdesak-desakan memasuki Istora. Sayang, belum sempat ia berstand-up, kampanye sudah bubar. “Karena saya ingin hasil yang maksimal untuk tugas ini, pengalaman kegagalan itu saya jadikan sebuah pembelajaran dan bekal liputan di hari berikutnya,” ungkapnya.

Sabtu, 5 April, ia berangkat lebih awal untuk kampanye Partai Hanura.   Suasana cukup ramai pada saat itu, tapi sayangnya tidak seperti kampanye sebelumnya yang tidak ada batas jarak antara simpatisan dan para caleg atau orang partai, pada kampanye kali ini sangat terlihat bentang jaraknya dan pengamanannya. “Pada liputan kali ini kami tak membawa mikrofon, jadi kami memutuskan untuk stand up di depan stadion dengan pertimbangan gemuruh suara lebih kecil,” paparnya. Dan akhirnya setelah puluhan kali mencoba, mulai dari terang sampai dengan gelap, stand up itu berhasil juga dilakukan. “Tapi sayangnya batas waktu yang diberikan tak dapat saya penuhi karena sulitnya harus berbicara tanpa henti selama 1 menit dilapangan,” katanya.

Bagaimana bisa berbicara lama –atau setidaknya tidak terlalu singkat- saat live report? Jawabnya ada pada pengusaan materi. Dengan persiapan, riset, dan penggambaran suasana deskripsi, apalagi ditambah ‘menggaet’ narasumber, niscaya waktu atau durasi liputan bisa jadi lebih bersahabat.

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s