Membuat Live Report Tidak ‘Garing’

Kelebihan liputan ini: gambar tajam, pembawaan jelas. Kekurangannya: Visual monoton, dan headroom terpotong.

Eka Erviana Rachmawati membawakan liputan langsung kampanye Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dari pelataran Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sayang, sepanjang hampir 1 setengah menit laporannya, tampak monoton.

Mengenakan jas almamater, Eka terlihat lebih percaya diri di tengah panasnya Stadion Utama GBK yang dikepung ribuan simpatisan Hanura. Namun, semangatnya kurang diimbangi materi liputan maupun sisi teknis yang ‘bermasalah’. Tak ada narasumber atau peserta kampanye diajak ngobrol. Taka da CG keterangan menjelaskan situasi. Pun tak ada insert visual pendukung, kecuali hanya terfokus pada wajahnya.

Selain itu, headroom (batas atas antara kepala dan layar) tampak terpotong sepanjang video liputan. Seandainya Eka bisa lebih ‘nakal’, ia seharusnya ‘menangkap’ dan mewawancarai seorang simpatisan Hanura yang mengibar-ngibarkan bendera di sampingnya. Dengan  mewawancarai seorang narasumber, selain menjadi lebih menarik ditonton, durasi liputan pun tidak menjadi terlalu pendek.

 

Jangan lupakan juga, berita televisi sebaiknya menghindari “penyebutan daftar” kalau tak disertai visual memadai. Karena visual harus selaras dengan audio/narasi yang diucapkan. Misalnya, saat Eka menyebutkan, “Kampanye ini akan diisi banyak hiburan dihadiri artis-artis ibukota seperti Ayu Ting-Tingm, Nasar dan artis-artis idol lainnya.”  Sama sekali tak ada insert visual (bisa diakali foto kalau tak ada video) tentang artis yang disebutkannya. Pun demikian saat Eka menyatakan, “Masyarakat sangat antusias, sangat bersemangat mendukung Partai Hanura. Mereka mengenakan atribut kampanye seperti kaos, spanduk, dan juga poster.” Tak ada gambar kemeriahan ini sama sekali.

Tiga kali liputan

Bagaimanapun, usaha Eka patut diacungi jempol. Ia mengaku meliput kampanye sampai tiga kali, demi menemukan hasil terbaik. Pada 8 Maret, Eka meliput kampanye Partai Golkar di GOR Jakarta Timur. “Saya naik angkot dan bus kota bersama teman-teman,” kisahnya. Eka berkisah, pada saat stand up banyak kesalahan jadi stand-up diulang beberapa kali. “Sangat grogi karena ini adalah pengalaman pertama saya,” kata Eka. Kendala yang dialami adalah suaranya ternyata tidak kedengaran begitu jelas, karena tidak menggunakan mikrophon, serta tertelan musik dangdut yang diputar begitu kencang.

 

Pada 23 Maret, ia menjalankan liputan kedua, di Stadion GBK. Liputan kampanye Gerindra nan meriah jadi ‘berwarna’ karena gangguan cuaca. “Ketika sedang stand-up beberapa kali hujan turun. Pada liputan kedua ini saya menggunakan camera, tripod dan juga mikrophon, karena belajar dari pengalaman sebelumnya,” paparnya. Sayang, setelah eksekusi selesai, sampai di rumah, didengarkannya liputan itu, ada salah sebut nama yang fatal.

Akhirnya, Sabtu 5 April, ia kembali liputan lagi ke Senayan. “Saya mengulang kembali stand-up, dan jadilah video ini,” katanya. Sebuah kerja keras demi makna kesempurnaan. Semoga bisa lebih baik di kesempatan berikutnya!

 

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s