Fokus, Jeng, Fokus…

Salah satu pelajaran berarti saat terjun ke lapangan untuk melakukan liputan adalah: fokuslah memilih satu sudut pandang, di antara banyak pilihan angle yang tersedia. Kita sadar, tak mungkin bisa ambil semua.

Ajeng Sri Handayani meliput kampanye Partai Amanat Nasional. Banyak angle diambil, tapi seharusnya fokus saja ke satu tujuan utama. Sebenarnya, sebagai sebuah liputan kampanye untuk tugas Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara, apa yang dilakukan Ajeng menjadi alternatif berbeda dari liputan mahasiswa lain.

Ajeng memilih kampanye Partai Amanat Nasional (PAN) di Istana Olahraga (Istora) Republik Indonesia, Senayan. Kampanye di ruang tertutup dijadikannya sebagai pembuka liputan, lalu bergeser –agak kasar/jumping- ke luar gedung, saat Ajeng mewawancarai salah satu calon legislatif PAN.

Sayang, visual pidato Hatta Rajasa yang sudah didapatnya, tak dieksplorasi terlalu dalam. Selain itu, Ajeng juga kurang fokus, saat menyebut banyaknya anak mengikuti kampanye partai bernomor delapan itu. Seharusnya, ketika menyatakan, “Saudara, sangat disayangkan, kali ini masih banyak anak kecil mengikuti kampanye terbuka…” ada perhatian khusus untuk menunjukkan visual anak-anak ini dan menggali lebih dalam tentang topik itu.

Mikrofon, senjata utama reporter

Pilihan lain, saat mewawancarai Raslina Rasyidin, yang di-‘challenge’ nya sebagai caleg yang cocok dan pantas sebagai anggota DPR RI mewakili, mengapa Ajeng memilih pertanyaan, “Apakah menurut Inbu Bapak Hatta Rajasa cocok sebagai pemimpin Indonesia ke depan?” Mengapa tak fokus pada visi-misi atau kelebihan Raslina. Tahukah Ajeng kalau Roslina merupakan artis sinetron sejak era 1990-an? Selain itu, Raslina menjabat wakil sekjen PAN, dan pernah mencalonkan diri sebagai wakil bupati Cianjur, yang seharusnya bisa digali lebih dalam dari atribusi-atribusi itu. Pilih salah satu topik, dan fokuslah di situ.

Salah satu kelemahan lain, seorang reporter harus memiliki kesetaraan dengan narasumber. Tak seharusnya Ajeng memakai panggilan ‘Ibu’ kepada Raslina –sebaiknya diganti Anda, atau ‘Bapak’ kepada Hatta Rajasa. Terakhir, mikrofon merupakan kekuatan dan senjata utama reporter dalam bertugas di lapangan. Membiarkan narasumber merampas mikrofon kita saat liputan, sama saja menyerahkan senjata kita kepada musuh dalam peperangan.

This entry was posted in campus, politic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s