‘Element of Surprise’ Hanura

Dalam liputan kampanye Hanura di Jakarta Selatan, Crisma Putri ‘bermain-main’ dengan anak-anak sebagai elemen yang membuat shownya lebih keren.

Sebuah live report harus memiliki kekuatan yang mengejutkan, lazim disebut ‘element of surprise’ agar penonton tetap dapat terjaga mengikuti laporan itu dan tak terburu memindahkan kanal televisi ke stasiun lain.

Crisma memilih obyek anak-anak sebagai tema utamanya dalam liputan kampanye Hanura. Anak-anak yang belum memiliki hak suara dan belum saatnya terlibat politik praktis, diajaknya berbicara secara natural di tengah keriuhan kampanye.

Crisma: Adik-adik lagi ngapain sih di sini?

Anak-anak: Main-main aja…

Crisma: Emangnya gak ada yang nglarang? Ini bendera dapat dari mana?

Anak-anak: Ambil ajaaaa…

Crisma: Gak disuruh?

Anak-anak: Nggaaaak….

Pilihan melakukan adegan seperti ini merupakan hal yang wajar. Tak jadi soal apakah anak-anak dikumpulkan secara lebih rapi saat seorang reporter beraksi. Toh, tanpa disorot kamera televise pun mereka sudah ada di sana dan melakukan kegiatan yang sama. Menjadi soal kalau tim televisi itu yang benar-benar mempersiapkan semua, baik sumber daya maupun sarana-prasarana.

Pengalaman seru

Crisma berkisah, dalam liputan di Lapangan Blok S, ia banyak mendapat saran dari para reporter televisi yang  bertugas disana. “Berkat saran itu, saya bisa menemukan topik apa yang akan disampaikan,” ungkapnya.

Ia memaparkan kendala yang dihadapi, yakni banyak sekali orang yang jalan didepan kamera, meskipun lokasi sudah diblocking oleh rekannya. “Suara yang masuk kerekaman sudah lebih baik karena tidak terlalu noise, itu juga karena dibantu dengan microphone khusus,” ungkap Crisma.

Alat-alat yang dipakai pada saat liputan antara lain kameraDSLR, handphone sebagai perekam, tripod, serta boom mic yang disambung ke kamera.

Ia mengakui, kendala lain ada pada diri sendiri yang sering lupa fokus ke berita yang ingin diucapkan, sehingga berpengaruh pada beberapa kalimat yang berulang-ulang disebut. “Untuk mengurangi rasa bingung dan gugup, tangan saya sering bergerak-gerak untuk mengurangi rasa itu,” kata Crisma.

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s