Enaknya Jadi Wartawan Olahraga

Sebuah mini seminar digelar untuk menjawab pertanyaan di awang-awang: bagaimana sih rasanya jadi jurnalis sport?

Seminar 'Enaknya Jadi Wartawan Olahraga'. Mendekatkan mahasiswa ke dunia nyata.

Seminar ‘Enaknya Jadi Wartawan Olahraga’. Mendekatkan mahasiswa ke dunia nyata.

Salah satu rangkaian Compress UMN, sebuah ajang tahunan untuk mengekspresikan diri bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN), yakni diskusi jurnalistik bertema “Enaknya Jadi Wartawan Olahraga”. Tamunya, tiga wartawan sport dari tiga platform media berbeda, yang sudah melanglang buana untuk meliput berbagai even olahraga: Redaktur Pelaksana Bola Weshley Hutagalung, Redpel Dunia Soccer Jalu Wisnu Wirahjati serta Produser Kabar Arena TV One Bagus Priambodo.

“Jurnalis itu bukan profesi, tapi panggilan hidup. Ketika kita sudah terpanggil, maka curahkanlah segala sesuatunya untuk profesi itu,” kata Jalu. Pria yang mengaku terinspirasi menjadi wartawan olahraga setelah membaca kisah wartawan senior Bola Sumohadi Marsis ini pernah dipercaya meliput Piala Dunia 2006 di Jerman.

Jalu berkisah, yang menyenangkan dari pekerjaan jurnalis karena jam kerjanya yang tak terikat waktu pasti. Juga pakaian yang dikenakan untuk “bekerja” amat casual, tak formal-formal amat. “Kalau saya ditanya, masuk kerja jam berapa? Saya balik tanya, hari apa dulu…” katanya.

Sebagai penggawa di media online, Jalu berkata, saat ini tantangan terberat bukan menghadapi kompetitor dari media sejenis. “Sebelum kami sempat menulis sebuah berita, hasil pertandingan misalnya, informasi serupa sudah muncul di media sosial seperti twitter. Benar-benar tantangan, bagaimana agar tulisan kami menghadirkan sisi berbeda dan tetap bisa dibaca,” katanya.

Sementara itu, Redpel Bola Weshley Hutagalung mengingatkan, agar jurnalis olahraga dapat tampil netral dan melepaskan keberpihakan personalnya. Semua orang bisa jadi fans klub atau atlet tertentu. “Tapi ketika menulis pemberitaan kita tidak menjadi fans. Jangan pernah melibatkan emosi pribadi kepada tulisan kita,” ungkap Bung Wesh, yang sempat memamerkan foto-fotonya di berbagai stadion terkenal di berbagai belahan dunia, serta mejeng bersama pesepakbola kesohor.

Pria yang juga kerap tampil sebagai komentator sepakbola di layar kaca ini menyebut, kebahagiaannya adalah ketika tulisannya dibaca dan bermanfaat bagi orang. Ia menekankan, wartawan olahraga itu kaya, tapi jangan diartikan dalam artian kaya secara materi. “Menjadi jurnalis olahraha itu kaya akan kehidupan. Semua itu didapat ketika bertemu dengan orang-orang tekenal. Gratis,” papar Weshley.

Keren tak hanya di wajah

Weshley Hutagalunng dan presentasinya. Jurnalis olahraga, menghadirkan 'drama' penuh makna ke publik.

Weshley Hutagalung dan presentasinya. Jurnalis olahraga, menghadirkan ‘drama’ penuh makna ke publik.

Di bagian jurnalisme televisi, Bagus Priambodo menyatakan, rating TV pasti naik ketika segmen berita olahraga dan tayangan olahraga. “Di sinilah pentingnya seorang jurnalis olahraga. Ia harus keren, tapi jangan diartikan secara fisik saja,” papar pria pernah meliput kualifikasi Piala Thomas-Uber di Makau, serta tahun ini berkunjung ke Jepang mengikuti hari-hari awal Irfan Bachdim di Ventforet Kofu.

Menurut Bagus, selain kemampuan tampil di layar, seorang jurnalis olahraga dituntut kemampuan teknis layaknya penguasaan kamera, penguasan materi, serta kemampuan lobby narasumber. Tak kalah penting yakni jurnalis olahraga harus memiliki kepercayaan diri tinggi. “Harus narsis, ganteng atau cantik belakangan,” kelakarnya.

Harus diakui, selain sisi positifnya, menjadi wartawan olahraga harus siap saat waktu untuk keluarga menjadi terkuras. Maklum, banyak event dan pertandingan olahraga justru terjadi di saat libur kerja, bagi mereka yang bekerja di dunia ‘mainstream’. “Di akhir pekan, orang lain libur, kami malah bekerja, menyampaikan hiburan untuk orang yang sedang liburan,” kata Weshley.

Seminar ini menjadi makin meriah dengan kehadiran mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dari Universitas Subang, yang khusus datang 1 bus dari Jawa Barat ke kampus UMN kawasan Gading Serpong, Tangerang.

Di akhir seminar, Weshley bercerita, saat menyeleksi calon reporter baru di Bola, ia kerap mengabaikan soal nilai IPK dan berapa lama lulus dari kuliah. “Bagi saya, lebih penting, saat di kampus dia ngapain aja? Mahasiswa yang mengikuti banyak kegiatan, kerap jadi panitia acara, akan lebih terbiasa saat menghadapi dan memecahkan masalah. Kemampuan itu akan sangat berguna di dunia kerja, termasuk di ranah jurnalis olahraga,” pungkasnya.

Keterangan: foto-foto dari Panitia Compress UMN

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Enaknya Jadi Wartawan Olahraga

  1. Arie Susanto says:

    Dan salah satu jurnalis favorit saya adalah Pangeran Siahaan. Saya juga ada keinginan jadi jurnalis olahraga.

  2. emang bedanya apa gitu kalo jadi wartawan biasa gan?
    terimakasih😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s