Warna Berbeda Kampanye Gerindra

Iona mencoba menyajikan liputan kampanye dari sisi berbeda. Sasarannya, penjual sate di luar arena.

Kampanye Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menjadi favorit mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara yang mendapat tugas untuk meliput kampanye pemilu legislatif. Bukan karena preferensi politik tentunya, tapi lebih karena agenda ini pas untuk diliput, secara venue maupun timing.

Pada tiga pekan kampanye pemilu legislatif lalu, tercatat hanya tiga partai yang menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai tempat gelaran kampanye akbar. PKS di pekan pertama kampanye, Gerindra di pertengahan, dan Hanura tepat di hari terakhir masa kampanye. Karena momen itu, tak salah Gerindra menjadi yang paling banyak menjadi obyek shooting atau pengambilan gambar calon jurnalis masa depan ini.

Secara penampilan visual, belanjaan gambar yang diambil Iona cukup kaya. Baik kedatangan peserta kampanye, maupun iringan musik dangdut yang menyertai kibaran bendera simpatisan Gerindra.

Sebagai menu utama, Eunike Ione Saptanti memilih angle lain. Ia mewawancarai seorang pedagang Sate Padang, yang menjajakan dagangannya sembari menunggu acara puncak kampanye dimulai. “Di sebelah saya sudah ada bapak Yogie, penjual Sate Padang yang merasakan kebahagiaan saat menjual dan meraup keuntungan di masa kampanye,” kata Iona.

Ia berkisah bagaimana awalnya memilih mewawancarai pedagang sate, tanpa perencanaan  panjang sebelumnya. Saat jam makan siang hampir tiba dan hampir kelelahan menyusuri komplek GBK, Iona dan teman-teman memutuskan untuk makan sate padang. Ketika itu juga, di benaknya terbesit ide, bagaimana kalau mewawancarai pedagang Sate Padang? Kalau angle anak-anak sudah biasa, mau wawancara satuan petugas dilempar sana-sini. Mau cari caleg, mereka sangat sibuk. “Momen kampanye saat ini pasti dimanfaatkan pedagang untuk raup keuntungan. Kenapa saya tidak coba saja? Dagangannya laku keras, keuntungan si bapak penjual sate padang ini bisa 2-3x lipat dari biasanya,” papar Iona.

Konten kurang menusuk

Kelemahan karya ini, selain editan gambar yang masih kasar, juga masih miskin CG untuk menjelaskan konten liputan. Pun saat Iona menjelaskan hadirnya petugas keamanan mengamankan kampanye, tak tampak visual polisi maupun satuan pengaman internal partai di layar.

Dari sisi konten, pertanyaan ke Yogie, penjual sate kurang ‘menusuk’. Selain ‘berhenti’ saat Yogie memberi jawaban atas harapannya kalau Prabowo menjadi presiden –tanpa mencecarnya lebih jauh, Iona juga kurang mendalam mengangkat sisi Yogie sebagai pedagang sate. Misalnya, saat masa kampanye dapat untung berapa, berapa banyak menyediakan tusuk sate dibanding biasanya, atau apa perbedaannya disbanding kampanye 5 tahun silam, kampanye pilkada, atau saat ada keramaian lain di Stadion GBK.

“Proses pengeditan tidak terlalu sulit. Saya menggunakan Sony Vegas 10.0.  Saya merekam suara dengan iPod, karena kualitas suara yang dihasilkan cukup bagus,” kisah Iona. Ia mengakui, ini pengalaman pertama kali untuk berbicara di depan kamera. “Walau hasilnya belum maksimal, saya percaya, ini adalah proses pembelajaran yang berharga untuk mengenal dunia berita televisi dan perpolitikan di Indonesia,” pungkasnya.

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s