Spanduk Kampanye Caleg, Efektif atau Bikin Pilek?

Pasca pemilu, berita yang paling ramai adalah soal caleg yang kecewa karena tak terpilih. Padahal modal yang keluar tidaklah sedikit.

Pileg alias pemilu legfislatif 2014 telah usai. Kini berita yang marak muncul di media yakni caleg-caleg kecewa karena perolehan suaranya tak sesuai harapan. Macam-macam saja ulahnya.

Di Jeneponto, Sulawesi-Selatan, seorang caleg PKS membongkar rumah warga yang diklaim tinggal di lahan miliknya. Di Pare-Pare, caleg PDI-P mengusir warga dari lahan miliknya. Konon, ia terus bergerilya mengumpulkan data siapa saja warga tidak memilih dirinya pada pileg 9 April lalu. Adapun di Ponorogo, caleg PDI-P menarik kembali semua bantuan yang diberikan kepada warga, termasuk melarang mushalla yang dibangun di atasnya.

Susah menemukan akses acara kampanye, Anggie Cyndia –mahasiswi kelas Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) asal Bogor- mencoba mencari topik liputan yang sedikit out of the box. Anggie memotret bendera partai, dan spanduk caleg, dengan wawancarai seorang tukang ojek yang ada di dekat kain rentang itu.

“Saya lama menunggu aksi kampanye di Tugu Kujang, Bogor, yang dijadwalkan pada 16 Maret tepat. Namun, acara tersebut ternyata diundur dua kali dalam dua pekan, karena izin tak kunjung didapat,” kata Anggie.

Perhatikan artikulasi suara

Pada akhirnya, Anggie memutuskan meliput tukang ojek yang di pangkalan mereka dipasang baliho-baliho partai.“Saya mengambil topik tersebut karena rasa penasaran saya. Apakah dengan dipasangnya baliho itu, mereka akan memilih partai atau calegnya?” ungkapnya.

Anggie mengaku grogi mengerjakan liputan yang sebenarnya “relatif aman” dari gangguan atau ‘noise’. Setidaknya jika dibandingkan liputan di tengah kerumunan massa kampanye di stadion, misalnya.

Di sini tampak Anggie kurang optimal. Selain kelemahan standar seperti mayoritas video lain yakni miskin menampilkan CG, ia tampak tergesa-gesa,. Anggie kurang memoles kelemahan utama yang seharusnya disadari sejak dini: artikulasi suaranya nan kurang jelas. Anggie mesti belajar tidak terburu-buru saat berbicara, membuka mulut lebih lebar, dan membuat pesan yang disampaikannya selaku komunikator lebih ‘terbaca’.

Ia mengaku, meski saya sering bekerja dengan kamera, ternyata tidak membantu untuk berbicara dengan tenang di depan kamera. Meski sudah berkali-kali take tetap saja hasilnya tidak sempurna,” kata Anggie yang dalam project ini menggunakan kamera Nikon D7000 dan iPhone 4S sebagai perekam suara.

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Spanduk Kampanye Caleg, Efektif atau Bikin Pilek?

  1. Pingback: Akhirnya Teruji pada Liputan Aksi | Jojo's Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s