UTS Liputan Kampanye: Nasdem, Memendam Kunci Jokowi

Sejak awal, partai ini tak terlalu ngotot menjagokan ikonnya sebagai calon presiden. Siapa sangka, kini Nasdem menjadi penentu bisa tidaknya PDI-P maju ke kontestasi pemilihan presiden.

Sejarah Nasdem diawali dari dibentuknya organisasi massa bernama Nasional Demokrat, yang menjadi rumah baru Surya Paloh setelah kalah dalam Munas Partai Golkar di Riau, 2009. Meski saat itu Paloh belum benar-benar keluar dari Partai Golkar, bayangan bahwa ormas ini bakal menjadi sebuah partai baru bukannya tak ada.

Di hari terakhir Munas Pekanbaru 8 Oktober, Paloh -yang antara lain didukung Jusuf Kalla- hanya meraih 240 suara, kalah dari 296 suara Aburizal Bakrie –yang disokong Akbar Tandjung. Empat bulan kemudian, 1 Februari 2010, Surya Paloh mendeklarasikan ormas Nasional Demokrat di Istora Senayan. Ada 45 deklarator ormas ini, termasuk Ahmad Syafii Maarif, Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama, Eep Saefulloh Fatah, Khofifah Indar Parawansa, dan Siswono Yudo Husodo.

Akan halnya Partai Nasdem –namanya begitu saja, tanpa kepanjangan Nasional Demokrat, baru diresmikan pada 26 Juli 2011 di Ancol, dan pada menjadi satu-satunya partai baru yang bertarung pada Pemilu 2014.

Hitung-hitungan hampir semua lembaga hitung cepat, Partai Nasdem berada di posisi antara 8-9 –bersaing ketat dengan PPP, di antara 12 partai nasional peserta Pemilu 2014. Dengan perolehan suara not too bad untuk sebuah partai baru, Nasdem dan 6,71 persen suaranya, menjadi daya tarik partai besar untuk merapat, menggenapkan suara menjadi 25 persen perolahan nasional, sesuai syarat mencalonkan pasangan capres-cawapres.

Sehari setelah para petinggi PDI-P berkunjung ke kantor DPP Nasdem di Gondangdia, Paloh buka suara. Meski sudah didekati partai banteng moncong putih, Surya Paloh tidak menutup pintu koalisi dengan partai lain. Ia mengaku masih membuka pintu koalisi lebar-lebar.”Paling tidak memiliki komunikasi politik dengan seluruh partai politik yang dianggap cocok,” ujarnya.

Kampanye di BSD

Bagaimana bakal perolehan suara Partai Nasdem di Pemilu 2014 sebenarnya tergambar saat Stella Gavrilla Gertruida meliput kampanye partai ini di lapangan Sunburst BSD, Tangerang Selatan. Peserta yang datang kampanye tak terlalu massif, cocok dengan perolehan suara partai nomor urut satu ini, yang akhirnya terdampar di papan tengah.

Stella  menggunakan peralatan standar, seperti seperti single camera (DSLR D60), mikrophone (shoot gun), tripot, kabel panjang microphone, dan recorder. “Kesulitan yang paling besar yakni pada persiapan,saat menentukan angle. Saya belum bisa membayangkan apa yang menarik untuk diliput. Sebagai pemula, saya belum cepat menangkap angle yang menarik,” ungkap Stella.

Sayang, karena konsep yang kurang kuat itu, hasil liputan kampanye Stella tampak datar. Maunya, ia menekankan acara hiburan sebagai magnet para peserta kampanye, namun gambar musik dangdutan, tak ditampilkan sama sekali. Padahal, visual acara, maupun keriuhan penonton, bisa menjadi bumbu yang renyah bagi sebuah liputan kampanye. Selain untuk memperpanjang durasi agar tak jadi terlalu pendekm, tentunya.

‘Variasi’ kecil hanya tampak saat Stella menengokkan kepala ke belakang, atau saat hujan mulai membasahi badan dan mikrophonenya. Sayang sekali, peralatan yang lumayan bagus, kurang ditunjang ‘skenario’ memadai, sehingga hasilnya hanya stand-up 32 sekon nan kurang ‘basah’.

 

This entry was posted in campus, politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to UTS Liputan Kampanye: Nasdem, Memendam Kunci Jokowi

  1. Pingback: Belajar Menjadi Pembuat Film Dokumenter | Jojo's Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s