UTS Liputan Kampanye: Gerindra, What a Phenomena!

Yehezkiel Filemon Septano memotret meriahnya kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Pemilu legislatif sudah lewat. Perolehan suara via hitung cepat pun sudah kita ketahui, meski resminya data akhir baru bisa diketahui sebulan pasca Hari ‘H’ pencoblosan. Namun, dari quick count beberapa lembaga, hasilnya relatif sama. Yang patut dicatat, Partai Gerindra mencatat fenomena tersendiri, masuk 3 besar, melewati sang petahana Partai Demokrat. Dengan prediksi suara tembus persen, pencapaian ini jauh melampaui perolehan saat debut pemilu 5 tahun silam, yang ‘hanya’ meraup 4,4 persen suara nasional atau setara 26 kursi DPR.

Salah satu pendongkrak suara Gerindra bisa jadi dari rapat akbar di GBK Senayan, 23 Maret silam. Saat itu, ribuan kader partai berlogo kepala garuda ini meluberi stadion bersejarah yang dibangun untuk menyamput Asian Games 1962. Ikon partai, Prabowo Subianto, tampil eksentrik dengan turun dari helikopter, naik, jip dan menunggang kuda.

Momen kampanye Gerindra inilah yang dipilih Yehezkiel Filemon Septano, untuk pengerjaan tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Jurnalistik Televisi di Universitas Multimedia Nusantara. “Saya menggunakan kamera  SLR  canon 600 D, dengan lensa standar 18-55 mm, ditunjang tripot agar hasil gambar yang diambil tidak goyang,” kata Kiel –panggilan akrabnya.

Kurang unsur kejutan

Sayang memang, untuk sebuah stand-up live, penampilan Kiel sangat singkat, tak sampai 1 menit. Selain itu, Kiel kurang memperkaya konten live report, misalnya mengenai materi kampanye atau pidato politisi Partai Gerindra, atau mengambil gimmick-gimmick di sekitar lokasi. Sebaiknya, agar liputan live report ditonton pemirsa hingga tuntas, setiap stand-up reporter menyertakan “element of surprise”, yakni poin apa yang bisa menjadi kejutan –baik. Satu-satunya kejutan dalam liputan singkat ini, saat Kiel bercerita mengenai antusiasme pendukung Gerindra, dan seketika itu mukanya sempat tersibak bendera besar partai yang dibawa peserta kampanye.

Kelemahan lain dalam video liputan ini, yakni tak menyertakan teks di layar. CG –character generator- dapat membantu pemirsa mengetahui materi apa yang disampaikan, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri agar tetap bertahan melihat sebuah tayangan televisi, dan tak terburu berpindah ke saluran lain.

Kiel berkisah, pengalaman yang tak akan dilupakannya saat melakukan stand-up adalah prosesnya yang membutuhkan kerja keras dalam berpikir. “Sebab saya harus benar-benar menentukan angle yang pas untuk dibicarakan didepan kamera,” ungkapnya.

Selain itu, yakni bagaimana seorang reporter televisi harus belajar menguasai diri di depan kamera agar tidak terlihat gugup. Kiel menuturkan, ketika sudah menyusun poin-poin penting dalam catatan kita dan mulai on, kita harus bisa benar-benar menguasainya agar tetap terlihat rapi ketika berbicara di depan kamera. “Cara berbicara kita dan cara menyusun bahasa kita ketika menyampaikan informasi di depan kamera benar-benar diuji,” pungkasnya.

This entry was posted in journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s