Di Balik Nyanyian Petinggi Partai

Beberapa politisi kita punya lagu favorit. Tak jarang dibawakan saat kampanye.

Bagi mereka yang rajin mengikuti perjalanan politik Susilo Bambang Yudhoyono tentu paham, ada evolusi dalam lagu-lagu kegemaran presiden keenam Indonesia itu. Pada 2004, kampanye menjadi capres periode pertama, SBY getol benar pada ‘Pelangi di Matamu’ milik Jamrud.

“Tiga puluh menit aku di sini, tanpa suara, 

dan aku resah harus menunggu lama, kata darimu…

Mungkin butuh kursus, merangkai kata, untuk bicara,

dan aku resah harus jujur padamu, tentang semua ini…”

Hasilnya, Partai Demokrat tak jadi resah pada debut perdananya mengikuti pemilu. Beroleh 7,45% suara nasional, Demokrat mendapat 55 kursi DPR, atau nomor 5 perolehan suara setelah Partai Golkar, PDI-P, PKB, dan PPP. Dalam pencalonan sebagai presiden, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla menang dua putaran, dengan presentase akhir 60,6% berbanding 39,3% atas Megawati-Hasyim Muzadi.

Pemilu 2009, mengusung jargon menang satu putaran pilpres, SBY yang berganti pasangan –kali ini dengan Boediono, kerap membawakan lagu ‘Sempurna’ milik Andra and The Backbone’.

“Kau adalah darahku, kau adalah jantungku

Kau adalah hidupku, lengkapi diriku

Oh sayangku kau begitu Sempurna, sempurna..”

Demokrat menjadi pemenang Pemilu 2009, dengan 150 kursi DPR dan 21,7 persen suara nasional. Di pilpres, pasangan SBY-Boediono meraup 60,8% berbanding Mega-Prabowo 26,7% dan JK-Wiranto 12,4%. Sempurna, menang satu putaran.

Kini, saat partainya digerus isu korupsi dan bakal mengalami kemerosotan karena SBY tak bakal nyalon lagi, sang ketua umum sekaligus figur sentral partai membawa ‘Rumah Kita’ milik God Bless berkeliling dari panggung kampanye ke panggung kampanye lain. Dengan gimmick baret biru, SBY memimpin nyanyi…

“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri, segala nikmat dan anugerah yang kuasa

Semuanya ada di sini, rumah kita…”

Berapa hasilnya? Benarkah rakyat sudah menganggap partai yang baru berdiri belum 13 tahun ini sebagai rumah bersama…

My Way

Sudah lama saya tak mendengar Megawati Sukarnoputri menyanyi. Lima belas tahun lalu, di Stadion Gelora 10 November Surabaya, Ketua Umum PDI Perjuangan itu suka sekali menyanyi lagu  anak-anak,

“Topi saya bundar, bundar topi saya..

kalau tidak bundar, bukan topi saya…”

Entah apa maknanya.

Lima tahun kemudian, Pemilu 2004, Mega khusus mengundang Dewa 19 sebagai grup pengiring kampanye PDI Perjuangan. Grup pimpinan Ahmad Dhani itu dipilih, konon, karena Mega sangat demen pada lagu ‘Separuh Nafas’ yang dibawakan suara serak-serak Elfonda Mekal alias Once. Di Bali, Mega sampai berjoged saat lagu ini didendangkan.

“Kau hancurkan diriku.. bila kau tinggalkan aku…

Kau Dewiku… kembalilah padaku

Bawa separuh nafasku, kau Dewiku…”

Adapun Aburizal Bakrie merupakan penggemar lagu ‘My Way’.

Dalam blog-nya, Ical menulis khusus, mengapa ia jatuh hati pada komposisi yang dipopulerkan Frank Sinatra pada 1969 itu.

… saya suka lagu ini karena isinya itu “saya banget”. Lagu ini sangat mencerminkan diri saya, perjalanan hidup saya, dan sikap saya.

Lagu itu menggambarkan seorang pria yang telah melalui perjalanan panjang hidup dengan segala lika-likunya–pernah mencintai, menangis, tertawa, menghadapi kegagalan, mengalami kesedihan, dan mencoba melakukan semua hal dengan cara terbaik sesuai dengan keyakinan dan caranya sendiri. Buat dia, penyesalan atau kegagalan tentu ada dalam hidup, namun terlalu sedikit untuk diungkapkan. Saat menghadapi semua tantangan dan kegagalan, bukannya menyerah, dia selalu berdiri tegak menghadapinya, dengan caranya sendiri. Itu semua persis dengan apa yang saya hadapi dan lakukan selama ini. …”

Ada seorang politisi lain yang jarang bernyanyi. Tapi, ketika memilih lagu untuk dinyanyikan di atas panggung, mungkin membuat Anda tercengang. Prabowo adalah penyuka lagu ‘Cucak Rowo’ gubahan Didi Kempot.

Sambil sesekali bergoyang, mantan jenderal bintang tiga itu semangat berdendang,

“Kucoba coba melempar manggis… manggis kulempar mangga kudapat,

Kucoba coba melamar gadis.  gadis kulamar janda kudapat…”

This entry was posted in politic, public relations and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s