Membedah Iklan Politik: PAN, Partai Artis Nasional

Iklan PAN seperti menegaskan, merekalah partai matahari ‘bertabur bintang’. Ya bintang sinetron, ya bintang panggung… 

Jauh sebelum partai lain menggelar jumpa pers untuk menyatakan bergabungnya selebritas, Partai Amanat Nasional (PAN) telah melakukan ‘kerja nyata’ bersama para pesohor.

PKB boleh mengundang wartawan untuk menunjukkan figur Arzetty Biblina, Sandy Nayoan, Said Bajuri, Ressa Herlambang, Krisna Mukti, Gita KDI, Ficky dan Ridho Rhoma. PDI-P pun punya Dedy ‘Mi’ing Gumelar’, Sony Tulung, dan Edo Kondologit, Partai Golkar bisa bangga dengan sosok Nurul Arifin, Tantowi Yahya, serta Charles Bonar Sirait. Maupun Gerindra memiliki Rachel Maryam, Jamal Mirdad, Bondan Winarno dan Nuraina ‘Nuri’ Shaden, yang juga menjabat Ketua DPC Gerindra Jakarta Selatan. Di kubu Demokrat, pasca resign-nya Theresia Pardede, masih ada nama Venna Melinda, dan Dede Yusuf, yang maju di pileg 2014.

Tapi PAN bicara lain. Partai berlambang matahari ini seperti menegaskan, merekalah yang layak menyandang sebutan ‘Partai Artis Nasional’. Lima tahun terakhir, PAN menempatkan dua artis sebagai legislator di Senayan, Primus Yustisio, Eko Hendro Purnomo alias Patrio.

TVC PAN Delapan

Pasha Ungu bersama Amien Rais dalam kampanye PAN. Magnet tersendiri. (Foto: Viva)

Pasha Ungu bersama Amien Rais dalam kampanye PAN. Magnet tersendiri. (Foto: Viva)

Di salah satu TVC-nya, PAN memajang sosok Desy Ratnasari (Caleg Jawa Barat IV, Sukabumi), Anang Hermansyah (Caleg Jawa Timur IV Jember), serta Hengki Kurniawan (Caleg Jawa Timur VI, Blitar-Kediri). Selain mereka masih banyak caleg artis lain dari PAN, seperti pasangan Ikang Fawzi-Marisa Haque, Jeremy Thomas, juga Dwiky Darmawan.

Di versi iklan lain, ada penampilan Pasha Ungu, yang meneriakkan PAN teridentikkan dengan kata ‘delapan’ dan ‘harapan’.

Pasha memang bukan caleg PAN. Namun pria bernama asli Sigit Purnomo Syamsuddin Said ini menjadikan dirinya bak ‘branding’ PAN saat kampanye akbar. Seringnya, bersama Hatta Radjasa atau Amien Rais, Pasha mendendangkan ‘Demi Waktu’ di atas panggung kampanye.

‘’Dan demi waktu..

Yang bergulir di sampingmu,

Maafkanlah diriku.. sepenuh hatimu

Seandainya bila.. ku bisa memilih…‘’

Akankah lirik itu mengantarkan banyak suara tambahan untuk memilih angka delapan pekan depan? Atau justru keterlibatan para artis di panggung kampanye PAN berakhir seperti lirik lagu Ungu itu,

‘’Kalau saja waktu itu

Ku tak jumpa dirinya

Mungkin semua takkan seperti ini

Dirimu dan dirinya kini ada di hatiku

Membawa aku dalam kehancuran..‘’

 

 

 

 

 


 

This entry was posted in politic, public relations and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s