Membedah Iklan Politik: Indonesia Hebat Menyentuh Rakyat

Sang banteng terluka mencoba muncul dengan tagline baru.

PDI Perjuangan bangkit lagi. Tak tanggung-tanggung, 10 tahun capek jadi oposisi, kini banteng moncong putih mencoba merenggut kejayaan seperti yang pernah diraih 15 tahun silam. Target menjadi juara dicanangkan, dengan mengusung semboyan “Indonesia Hebat”, yang pencanangan resminya berbarengan dengan peringatan Sumpah Pemuda tahun lalu.

Tagline baru “Indonesia Hebat” juga ditransformasikan dalam berbagai media pariwara, yang paling mencolok yakni banner di jalan-jalan strategis serta poster di pohon, tiang listrik dan tembok-tembok. Ada beberapa versi yang muncul dengan rangkaian kata manis, misalnya “Semua Sehat Semua Bisa Berobat”, “Pasarnya Bagus Semua Untung Terus”, “Yang Salah Tetap Salah Yang Benar Tetap Benar di Mata Hukum”,  “Tidak Korupsi Tidak Kolusi”, “Sembako Ada Terus Harganya Stabil Terus”, dan “Berantas Pengangguran Buka Lapangan Kerja”.

TVC alias TV Commercial “Indonesia Hebat” antara lain tampil dalam video berjudul “tumpeng”. Diawali dengan lagu ‘Tanah Air’ karangan Ibu Soed, diiringi nasi tumpeng yang dikelilingi bendera impor: beras dari Vietnam, daging ayam dari Malaysia, kentang dan daging sapi dari Australia, kedelai dari Amerika, serta jagung dari India. Setelah “tumpeng impor” itu berputar, keluarlah suara Puan Maharani, Ketua Harian Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan, “Tanpa kita sadari, begitu banyak yang kita miliki, tapi sedikit yang kita kuasai. Saatnya kita kembalikan pangan agar tercipta kesejahteraan. Itulah Indonesia hebat!” Pariwara itu sederhana dengan tema yang disampaikan straight nan kuat, tanpa dialog, tanpa bintang iklan mahal, tanpa syuting kolosal.

Ipang Wahid di balik layar

Salah satu poster Indonesia Hebat. Slogan baru PDI Perjuangan.

Salah satu poster Indonesia Hebat. Slogan baru PDI Perjuangan.

Di balik konsep “Indonesia Hebat”, ada Ipang Wahid, Direktur Eksekutif Fastcomm, yang kali ini ‘disewa’ untuk memoles PDI Perjuangan menuju tahta juara. Pria bernama asli Irfan Asy’ari Sudirman sebelumnya pernah memermak Adang Daradjatun-Dani Anwar pada Pilgub DKI 2007. Meski akhirnya keok dari Fauzi Bowo-Prijanto, tapi perolehan Adang-Dani –yang hanya didukung satu partai yakni PKS- mampu mengejutkan Foke dan 20 partai pengusungnya. Duet Adang-Dani meraup 42,13% suara, berbanding dengan 57,87% suara milik Foke-Prijanto. Adapun Ipang, saat itu memunculkan iklan berjingle, “Nyok kita benahi Jakarta, yang selama ini salah urus…” dengan irama serupa lagu “Nyok kita nonton ondel-ondel…”

Pada 2012, Ipang justru ‘melompat’ membantu Foke, saat mencoba memertahankan kekuasaan yang kemudian direbut Jokowi-Ahok. Meski kalah, satu tagline yang dikenal dari pasangan petahana yakni kalimat, “(F)okelah kalau begitu!”

Ipang Wahid menyertai kampanye PDI Perjuangan. Bangga bertagline Indonesia Hebat. (foto diambil dari twitter @ipangwahid)

Ipang Wahid menyertai kampanye PDI Perjuangan. Bangga bertagline Indonesia Hebat. (foto diambil dari twitter @ipangwahid)

Kini, jelang Pemilu, lulusan jurusan music & video business dari Institute of Seattle, AS, itu merapat ke PDI Perjuangan. Dalam berbagai wawancara, putera sulung Salahuddin Wahid ini menyatakan, ‘Indonesia Hebat’ sebenarnya adalah gerakan nasional yang berupa ajakan, semangat, serta optimisme tentang kecintaan terhadap indonesia di saat banyaknya skeptisme dan ketidakpercayaan akan dapat bangkitnya negeri ini.

“Indonesia hebat adalah sebuah apresiasi akan begitu banyaknya kehebatan-kehebatan di negeri ini. Sekecil apapun, oleh siapapun,” kata pria 43 tahun itu kepada Tribunnews.

Berapa persen kehebatan PDI Perjuangan pada pemilu kali ini, bersama Ipang yang mengonsep kampanye Indonesia Hebat? Entahlah, tapi dalam sebuah twitnya, @ipangwahid menulis, “Tanpa saya bantu, PDIP akan tetap menang. Tapi, saya kan juga ingin berkontribusi menanamkan value-value yang baik untuk bangsa ini.”

Tapi, masih tentang iklan ‘Indonesia Hebat’ , dunia media sosial di Indonesia lagi gempar, karena TVC PDI Perjuangan ini mirip banget dengan Public Social Advertisement garapan agency Cabe Rawit pada 2003, yang saat itu justru dibuat untuk mengkritik pemerintahan Megawati Soekarnoputri!

 

This entry was posted in politic, public relations. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s