Membedah Iklan Politik: Presiden (Kebanyakan) Wacana

Salah satu seri iklan Anies Baswedan dan Pandji “Boko W Empuk” Pragiwaksono ini asyik dibahas.

Kini makin banyak TVC -alias materi iklan yang dikemas untuk televisi- dibuat tim sukses partai, caleg atau bakal kandidat presiden. Namanya memang TVC atau tv commercial, tapi beberapa di antaranya menyasar media sosial, khususnya youtube, di mana jutaan video bisa diunggah secara bebas, dan ditonton secara bebas pula.

Salah satu yang rajin mengunggah video ke youtube yakni tim Anies Baswedan, peserta “kesebelasan” konvensi Partai Demokrat. Anies bersinergi dengan Pandji Pragiwaksono, komik yang mendeklarasikan diri sebagai pendukung pro bono Anies. Mereka membuat serial percakapan antara Anies Baswedan dengan Pandji yang berperan sebagai “Boko W Empuk”, entah tokoh siapa yang diparodikan Pandji ini. Kalau merujuk pada blog-nya Pandji, ia mati-matian menolak tokoh rekaannya itu disebut sebagai personalisasi Jokowi.

“Padahal coba kita pikir baik baik. Bukankah kalau saya mau impersonate Jokowi, cara paling mudah adalah pakai kemeja kotak-kotak dan senyum ramah tanpa pecicilan dan banyak ketawa kayak Boko?” tulis Pandji.

Pria yang membesarkan program ‘Stand Up Comedy’ di Indonesia ini memaparkan, Boko W. Empuk memiliki nama panjang “Bokong Wes Empuk” atau “Pantat Sudah Empuk” dalam bahasa Jawa. Ceritanya menggambarkan para pejabat yang pantatnya sudah empuk (akibat duduk lama di kursi jabatan) adalah stereotip politisi Indonesia yang kita ingin hentikan kembang biaknya. Politisi yang merasa harusnya terkenal karena dia pejabat, politisi yang dalam pemenangannya beriklan jorjoran di baliho, poster, flyers, internet, TV, koran, dll. Politisi yang menggunakan robot robot yang bisa diprogram opininya.

Capres Wacana

Setidaknya duet Anies Baswedan dan Boko W Empuk sudah membuat delapan seri perbincangan yang masing-masing dikemas pendek dalam durasi semenitan. Ada yang berjudul “Perjumpaan”, “Tagihan”, “Robot”, “Pahlawan”, “Aktivis”, dan “Studi Banding”.

Satu yang menarik, dialog mereka bertema “Wacana”.  Lucu, deh. Setelah memperkenalkan diri, Boko memberi sebuah es krim kepada Anies, sebagaimana juga ia memegang sebiji es nan sama. Namun, belum sampai berpindah tangan ke Anies, cum-cum es krim itu keburu jatuh dan mengotori lantai. “Ini tidak bisa dibiarkan, harus segera diselesaikan,” teriak Boko.

Selanjutnya, Pandji –eh, Boko W. Empuk- memanggil Indah, asistennya. Ia pun memerintah panjang agar segera memanggil staf dan staf khusus untuk menyeleksi anggota komite yang akan membentuk tim kecil untuk mengawasi tim besar bertugas mencari solusi dari “masalah es krim jatuh” tadi. “Kita bikin semacam juklak, siapkan ruang rapat,  dan siapkan banyak kertas karena tim ini akan banyak rapat untuk mencari penyelesaian masalah,” cerocos Boko.

Very smart, karena saat Boko terus berkata-kata, Anies mengambil langkah nyata. Ia membersihkan ceceran es krim yang merusak pemandangan tadi, dan menyelesaikan masalah, bahkan sebelum perintah penyelesaian masalah kelar diucapkan. Klip berdurasi 1 menit 16 detik itu diakhiri dengan tagline “kurangi komite dan wacana, perbanyak dampak dan karya.”

Video dan pesan yang sangat cerdas!

Satu pertanyaan menggelitik tersisa, mungkin gak ya, Anies Baswedan terpilih sebagai pemenang konvensi Partai Demokrat, kalau salah satu seri kampanye dalam videonya dianggap mengkritik si .. ehm.. ehm.. ehm…

This entry was posted in politic, public relations and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s